Tampilkan postingan dengan label trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trip. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Agustus 2017

Cerita Kuliner Trip: Mengejar Salju Abadi ke Puncak Titlis, Swiss - nuraisya blog

Tanpa terasa sudah setahun berlalu sejak menginjakkan kaki ke Swiss, sempat mandek nulis blog karena sibuk mungkin terdengar klise. Tapi lanjuuut aja dengan sedikit nyicil, ngikutin pepatah "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali". Selamat membaca...

Senin, 16 September 2016
Lucerne
Perjalanan kereta kali ini cukup panjaaang, maklum lintas antar negara. Bertolak dari Milan menuju Lucerne via stasiun kecil Chiasso, perbatasannya Italy dan Swiss. Selepas Chiasso, mata langsung jarang berkedip karena dimanjakan dengan pemandangan alam yang menyegarkan di kedua sisi kereta. Swiss memang oke banget buat yang suka menghabiskan liburan dengan tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota. Selain negaranya yang asri dan cantik, penduduknya juga ramah-ramah. Saat naik kereta saja ada seorang ibu penduduk asli yang tanpa ditanya menjelaskan tentang sebuah gereja yang bisa dinikmati hampir dari segala penjuru, dikarenakan jalur kereta yang memutari gereja tersebut. Sekilas info tersebut pun berlanjut ke obrolan-obrolan ringan sebagai pengisi waktu perjalanan kami. Tiba di Lucerne gerimis lagi-lagi menyambut, sepertinya cuaca sedang tidak bersahabat belakangan ini. Ditambah lagi untuk membeli tiket bis di mesin hanya menerima pecahan uang kecil. Oh iya, mata uang yang digunakan di sini adalah Swiss Franc (CHF) loh. Untungnyaaaa.... kemarin sudah sempat menukar koin-koin Rupiah dengan recehan berbagai negara di toples barteran koin Ostello Bello. Jadilah kami memilah-milah apakah ada recehan CHF dari dompet masing-masing, yang anehnya cukup untuk ongkos kami saat itu. Ketahuan kan pada ga pake malu2 ngembat recehan orang, lumayan modal gopek ceceng bisa dapat 0.5-2 Franc. Yahh, yang penting bisa sampai ke Luzern Youth Hostel, tempat berteduh malam ini.

Pemandangan negeri ini bagaikan berada di dunia mainan
Para petugas yang berjaga di perbatasan Chiasso, kemarin sempat ada salah satu penumpang kereta yang digiring turun.

Selasa, 17 September 2014
Lucerne
Setelah cukup beristirahat malam sebelumnya, sekarang saatnya untuk mengeluarkan senjata perang yaitu long john untuk menghadapi dinginnya salju di puncak Titlis (musuh banget sama yang namanya dingin, bayanginnya aja dah bikin begidik brr.....). Ga pake lama langsung antri paling depan buat sarapan, masih sereal dan roti. Berbekal tiket bis yang bisa dipakai sampai 24 jam ke depan sejak tiket diceklok pertama kali, berangkatlah kami ke stasiun. Sesampainya di stasiun langsung membeli tiket kereta menuju Engelberg, tempat Gunung Titlis berada. Karena ga mau repot, beli yang PP dengan waktu fleksibel seharga CHF 34.8 atau sekitar IDR 435.000 Tidak lupa mampir sebentar di Coop (model-model Indomaret-nya Swiss) untuk belanja cemilan dan bekal makan siang, karena banyak yang bilang beli makan di atas Titlis cukup mahal.

Menunggu kereta menuju Engelberg, buat yang kedinginan bisa menunggu di kubikel-kubikel kecil yang dilengkapi dengan penghangat
Mata tetap segar dan melek sepanjang perjalanan walau sudah bangun pagi-pagi sekali, pemandangan di luar jendela sangat sayang untuk dilewatkan

Engelberg
Mt.Titlis
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam yang tidak begitu terasa karena terlalu bersemangat buat lihat gunung bersalju (norak mode on), kereta yang kami tumpangi merapat ke stasiun Engelberg. Tepat di depan stasiun sudah disediakan bis gratis khusus menuju ke Titlis. Berhubung masih pagi antrian membeli tiket tidak begitu panjang, sayangnya cuaca yang tidak cerah mengakibatkan beberapa wahana ditutup karena faktor keamanan. Sedikit sayang sih karena tidak bisa memanfaatkan maksimal tiket terusan seharga CHF 86 tersebut. Tapi namanya sudah sampai di sana pasti tetap beli dan memilih menaiki gunung yang memiliki ketinggian 3.238 m tersebut (walau naiknya pake cable car). Ada 3 perhentian di Titlis, yang pertama adalah Gerschnialp pada ketinggian 1300 m. Dicapai dengan cable car kecil, buat yang hobi hiking atau bersepeda santai sambil menikmati hijaunya pepohonan bisa singgah di sini. Rinder Titlis di 2075 m. Klein Titlis atau puncak yang terbuka untuk umum di 3020 m, di sini terdapat gua glacier, restoran dan Titlis Cliff Walk. Di sini kita juga bisa menikmati pemandangan pegunungan dari sebuah jembatan yang kokoh, dengan catatan cuaca cerah ya. Hari itu sih sepanjang mata memandang hanya warna putih karena sedang badai salju ringan. Kalau soal dingin ga usah ditanya lagi, ampun-ampun dah buat makhluk tropis yang satu ini ditambah lagi dari dulu emang ga kuat sama yang namanya dingin. Ke Puncak Pass aja meringkuk kedinginan, apalagi ngadepin badai salju. Untungnya kali ini bisa bertahan sampai menyeberangi jembatan di puncaknya, ya iyalah sudah berbekal baju, celana dan kaus kaki berlapis dan yang paling utama adalah NIAT! (ga mau rugi juga sih hahaha)

Di sebelah kiri adalah satu wahana yang ditutup karena cuaca buruk, padahal pengen banget nyobain gimana rasanya duduk dengan kaki menjuntai di atas gunung salju.
Tidak tanggung-tanggung tujuan pertama langsung puncaknya Titlis dengan menaiki cable car yang berlainan di tiap perhentian. Setibanya di puncak wahana pertama yang terlihat adalah gua es kecil, sebentar saja sudah selesai satu putaran. Seharusnya ada wahana satu lagi yaitu berseluncur dengan ban di salju tapi lagi-lagi tutup karena cuaca. Di sini juga terdapat restoran dan toko suvenir, buat yang belum bawa perlengkapan baju dingin bisa beli di sini modelnya juga lucu-lucu cuma soal harga yah tau sendiri lah. Naik ke atas saatnya bersiap-siap, karena di balik pintu hujan salju sudah menderu-deru di tengah hamparan selimut putih. Benar saja begitu membuka pintu seluruh badan serasa tertampar oleh hawa dingin, terutama wajah. Sempat tertahan sebentar ketika dua di antara kami ragu untuk melangkah maju. Sedang yang seorang lagi sudah meluncur duluan, aku pun segera mengikuti. Kapan lagi bisa sampai ke sini nikmatilah selagi bisa hanya itu saja yang kupikirkan sambil melangkah perlahan karena takut terpeleset dalam kondisi pandangan yang terbatas. Dan ternyata kedua teman yang lain akhirnya menyusul, yeayyy our team is back.

Sempat berpose sebentar di gua es, masih pakai pashmina buat menutup kepala dari hawa dingin.
Entah kenapa liat menara yang satu ini langsung teringat film James Bond
Inilah jembatan besi tempat kita bisa melihat pegunungan Alpen (seharusnya...hik3)
Biar kata salju sudah mulai lebat tetap berpose dulu (buat yang jeli bisa liat akhirnya beli topi suvenir dari Titlis karena kedinginan, thanks Tius for the pic)
Salah satu pendaki yang berhasil membawa nama Indonesia ke puncak Titlis
Puas bermain-main di tengah hujan salju, saatnya kembali ke dalam untuk menghangatkan diri. Selain tangan dan kaki yang mulai beku, perut juga sudah berontak nagih makan siang. Sedikit note nih buat yang bawa bekal sendiri ga boleh ikutan makan di ruang food court, walau terkenal ramah penduduk Swiss tidak segan menegur orang yang melanggar peraturan. Tapi tenang, banyak tempat duduk kok di selasar. Bekal sudah berpindah ke perut yukkk turun dari puncak ke tujuan berikut, danau di pertengahan Titlis. Siap-siap takjub di sini, semua pemandangan yang sewaktu kecil cuma bisa dilihat di kartu-kartu Natal serasa muncul dalam wujud tiga dimensi. Tiga huruf buat deskripsiin apa yang kulihat saat itu "WOW", setidaknya kecewa karena tidak bisa melihat pegunungan Alpen bisa terobati sedikit di sini.

Danau yang diincar sejak di cable car sudah di depan mata, makin semangat buat meluncur ke sana
Naik-naik ke puncak gunung, tinggi... Tinggi sekali.
Kiri kanan kulihat saja, banyak pohon cemaraaa....
(Thanks Cecil for the pic)
Mejeng sebentar di pondok tepi danau
(Thanks Len for the pic)
Cable car, sarana utama selama di Titlis
Engelberg dari atas cable car, persis seperti kota mainan
Hotel dan penginapan di kaki Gunung Titlis
Tidak terasa tiba saatnya untuk kembali ke Lucerne, selesai menyantap Samosa isi kentang yang hangat di kaki Titlis kami segera menuju ke point shuttle menuju stasiun Engelberg. Perjalanan pulang lebih terasa singkat dari berangkat tadi pagi, karena letih membuat kami mengisinya dengan tidur di sepanjang perjalanan kereta. Setibanya di kota kami langsung menuju Chapel Bridge yang memang dekat dengan stasiun.

Papan petunjuk berapa lama lagi bis sampai di halte

Lucerne
Kapellbrücke (Chapel Bridge)
Salah satu situs bersejarah di Lucerne yang sempat kami kunjungi adalah Kapellbrücke, sebuah jembatan tua kayu beratap yang sudah berdiri sejak tahun 1333 membentangi Sungai Reuss lengkap dengan sebuah menara di tengahnya. Menara tersebut sudah lebih dulu berdiri dan dikenal dengan nama Water Tower. Menara di tengah air yang terbuat dari batu-bata ini dulu berfungsi sebagai penjara dan tempat penyiksaan. Nama Chapel Bridge sendiri berasal karena lokasinya yang dekat dengan Kapel St.Peter. Chapel Bridge dibangun untuk melindungi kota Lucerne, sebagai penghubung kota tua dan baru. Sembari menyeberang kita juga bisa menikmati lukisan-lukisan dari abad ke-17 yang bercerita tentang sejarah Lucerne pada bagian penghubung atap bagian dalamnya. Sebagian besar lukisan berbentuk segitiga tersebut nyaris pudar termakan usia, tapi ada juga yang masih jelas karena hasil rekonstruksi akibat kebakaran di tahun 1993.

Chapel Bridge di kala senja
Pemandangan dari atas jembatan, di sisi kanan adalah sekumpulan hotel dan restoran ternama
Bagian dalam jembatan lengkap dengan lukisan segitiga-nya
Masih di seputaran Kapellbrücke, berpapasan dengan pengamennya Swiss. Yang pasti kalau melihat penampilan mereka pasti langsung mengingatkan kita pada iklan Ricolaaaa.... (yang masih kenal iklan ini bisa ditebak deh kelahiran era kapan ^.^). Alat musik yang berupa terompet dengan panjang sampai menyentuh lantai ini disebut Alphorn atau Alpenhorn. Pada awalnya sering digunakan di daerah pegunungan sebagai alat komunikasi, tidak heran selama dimainkan gemanya bisa terdengar sampai ke seberang Chapel Bridge.

Kebayang capeknya niup alat musik yang satu ini
Lambang ini tersebar di seluruh penjuru Lucerne, bahkan sampai ke dalam gereja
Sebelum meninggalkan Lucerne ada beberapa kisah menarik seputar Swiss, tepatnya Lucerne. Selama berkeliling di kota ini ada lebih dari sekali kami ditolong penduduk lokal saat tersesat, dua di antaranya bahkan tanpa kami meminta. Mereka langsung menawarkan bantuan begitu saja ketika melihat tampang-tampang kebingungan kami di pinggir jalan "Can I help you?" Bahkan ada yang sampai menawarkan diri mengantarkan kami lewat jalan tikus (motong komplek rumahnya) karena searah. Iseng bertanya ternyata ia baru selesai fitness, tapi masih berjalan cukup jauh lagi ke rumahnya. Jadi bisa disimpulkan mereka rajin berjalan kaki, kebayang kan betapa manjanya kita di Indonesia. Tapi semua itu dimungkinkan karena udara di Swiss nyaris bebas polusi, kalau Indonesia seperti itu mungkin kita jadi rajin juga (alasan banget ya...). Fakta menarik berikutnya masih terkait dengan udara bersihnya Swiss, di tanda terima hostel kami ada rincian biaya CO2. Yang artinya kita sebagai turis asing dikenakan biaya tambahan atas CO2 yang kita keluarkan selama tinggal di sana. Oiya, kota Lucerne ini juga nyaris tidak ada kehidupan di malam hari. Jam delapan malam saja sudah seperti kota mati, mungkin karena hari kerja juga. Yak, kisah-kisah tersebut mengakhiri perjalanan kami di kota Lucerne, Swiss sampai ketemu di belated post berikutnya...

Cerita Kuliner Trip: Bertamu ke Rumah Einstein di Bern, Swiss - nuraisya blog

Masih dari negeri yang asri dan cantik, kota berikutnya adalah Bern yang merupakan pusat pemerintahan Swiss. Selama perjalanan ke Bern sempat mengobrol ringan dengan salah satu penduduk asli yang lagi-lagi dengan ramah menjawab semua pertanyaanku. Kebetulan dia adalah teknisi kereta api yang sedang dalam perjalanan dinas untuk mengikuti meeting rutin di Bern. Cerita punya cerita ternyata dia pernah berlibur ke Bali dan mengaku mengalami kendala dengan cuaca di sana. Kulit mereka langsung merah seperti kepiting rebus terkena sorotan matahari Bali, kebalikan dengan kami yang mengkerut ketika terkena salju di Titlis hahaha... Seru ngobrol, tanpa terasa kereta pun memasuki stasiun Bern.

Rabu, 18 September 2013
Bern
Kembali disambut oleh gerimis tipis di perjalanan menuju hostel, karena letaknya di kaki bukit plus nenteng-nenteng koper akhirnya kami memilih merogoh kocek sedikit untuk naik furnicular (sejenis tram tapi untuk permukaan yang menanjak seperti bukit). Sama seperti Lucerne, kami memilih tinggal di youth hostel, dengan catatan tidak ada fasilitas lift di sini jadi siap-siap saja melatih otot mengangkat koper ke lantai tiga (pengalaman pribadi). Segera setelah check in dan menitipkan koper untuk mengirit waktu kami langsung lanjut ke tujuan pertama kami yaitu Bern House.

Banyak sekali patung-patung seperti ini bertebaran di pusat kota Bern. Bila diperhatikan lebih dekat banyak yang horor.

Bern House
Rumah yang berlokasi di pusat kota Bern ini adalah tempat kediaman Einstein muda. Ya, Albert Einstein dengan teorinya yang super terkenal itu. Siapa sih yang tidak kenal dengan teori relativitas e=mc2. Bern House terletak di lantai dua sebuah flat. Di meja resepsi kami disambut oleh seorang wanita berparas Asia-Jepang yang sangat ramah sekali. Dari dialah kami membeli tiket dan mendapat penjelasan sekilas mengenai Bern House, tidak berlama-lama kami langsung berkeliling mengitari rumah mungil tersebut. Tidak memakan waktu lama sudah selesai satu putaran, bahkan sambil bernarsis ria hampir di setiap penjuru ruangan. Sayang dengan harga tiket kami menyempatkan diri untuk menonton film dokumenter di salah satu ruangan yang khusus disediakan, banyak fakta menarik yang baru kami ketahui dari sana tentang seorang Albert Einstein yang jenius.

Penerima tamu yang super duper ramah di Bern House, ya iyalah kita kan sudah jadi sumber pemasukan di sini.
Ruang tamu yang sederhana tapi manis, masih terjaga dengan baik pula.
Pemandangan dari salah satu jendela Bern House, salah satu view favorit.
Ceritanya sih jadi penghuni rumah, tapi kok lebih ke pembantu lagi nyiram tanaman majikan.
Leny yang dengan patuhnya mau bergaya seperti pengunjung intelek hahaha...

Bern Clock Tower
Selepas dari Bern House masih di komplek yang sama kita bisa mengunjungi Clock Tower yang merupakan salah satu objek wisata yang terkenal. Menara yang sudah berdiri sejak 800 tahun silam ini pernah berfungsi sebagai menara pengawas, penjara dan menara jam. Yang unik dari menara jam ini adalah konstruksi jamnya yang lengkap dengan jam astrologi atau zodiak-nya.

Selfie time, kali ini difotokan oleh Leny di depan Bern Tower
Salah satu fitur yang unik sekaligus klasik, astral clock
Pancuran yang kalau diperhatikan seksama agak mengerikan, tapi menolong banget buat refill botol minum gratis.
Dilihat dari sudut manapun seperti berada di sebuah kota dalam buku cerita bergambar yang sering kubaca waktu kecil.

Bear Park
Masih di komplek yang sama, kami menuju ke taman beruang yang menurut pengakuan dari teman satu kereta kami merupakan salah satu tempat wisata di Bern. Setelah sampai di sana ternyata hanya sebuah taman dengan beberapa beruang yang sedang berleyeh-leyeh menikmati jam tidur siang mereka. Yang istimewa taman beruang ini sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu dan merupakan kediaman sekaligus tempat pembiakan beruang coklat yang tak lain merupakan simbol dari kota Bern. Tak heran di setiap penjuru kota kita banyak menemui ornamen berbentuk beruang. Selain beruang, pemandangan dari sini juga cantik. Kita bisa melihat hampir sebagian besar kota Bern dari sini karena lokasinya yang memang agak di puncak.

Celengan donasi untuk si beruang maskot kota.
Salah satu beruang yang baru saja terjaga dari tidurnya.
Blok-blok jalan di area Bear Park, bisa dilihat terukir nama-nama di atasnya. Kalau ada yang tau ini mewakili apa boleh dibagi infonya sedikit di ruang comment di bawah. Sangat membantu rasa penasaran saya...
Pemandangan mengagumkan lainnya dari kota Bern
Salah satu katedral di Bern
Gerbang masuk ke taman kota, lagi-lagi dengan maskot beruang
Banyak yang sedang bersantai sambil menikmati pemandangan dan udara segar di taman... hmmm enaknya jadi penduduk negeri ini. Selain tempat sampah yang hampir ada di setiap beberapa langkah, kembali lagi kesadaran dari penduduk sendiri yang sangat berperan untuk menjaga kebersihan bersama.
Iseng berpose di salah satu papan catur raksasa di taman bersama dengan Leny
(difotokan oleh Cecil)

Bern Parliament House
Kalau yang satu ini sebetulnya agak di luar rencana. Karena terjebak hujan saat jalan sore di taman tidak sengaja lihat antrian panjang. Iseng-iseng tanya ke petugas yang jaga dengan terbata-bata, ternyata antrian tersebut untuk masuk ke sidang terbuka anggota dewan rakyat mereka. Jadilah kami turut mengantri di sana, karena jumlah pengunjung yang dibatasi otomatis harus masuk bergiliran. Setelah beberapa orang keluar akhirnya tiba giliran kami untuk masuk. Namanya juga masuk gedung pemerintahan, yang pasti harus melewati pemeriksaan dan semua barang yang kami bawa harus disimpan di loker penitipan. Kemudian kami diarahkan untuk masuk ke bagian podium atas ruang sidang, yang mana pemimpinnya adalah seorang perempuan dengan bahasa yang asing di telinga. Jadilah kami hanya pelangak-pelongok menyimak ala kadarnya, sambil celingukan melihat interior dan suasana di dalam ruang sidang. Usai menonton sidang kami kembali ke hostel untuk merapikan kamar (ciri khas youth hostel adalah ambil dan pasang seprai dan sarung bantal sendiri alias self service). Lanjut dengan makan malam dengan memanaskan makanan cepat saji yang sudah dibeli di Coop. Seperti biasa aktivitas malam hari di kota Swiss berakhir lebih cepat, jadi kalau ingin berbelanja sebaiknya jangan melebihi jam 8 malam.

Kartu pengunjung yang ditukar dengan paspor untuk bisa masuk ke sidang parlemen Swiss
Gedung parlemen, model gedung MPR gitu lah
Gedung parlemen di malam hari, foto ini diambil saat perjalanan dari hostel ke pusat kota untuk belanja oleh-oleh sambil mengisi waktu di malam hari. Yup, hostel kami terletak di kaki bukit pusat kota, lumayan menguras tenaga saat perjalanan bolak-balik.
Naik furnicular untuk mengirit tenaga menanjak bukit dari hostel menuju ke stasiun kereta untuk bertolak ke kota sekaligus negara berikutnya
Yak, tiba juga saatnya untuk berpisah dengan negeri yang asri dan damai ini untuk lanjut ke negara selanjutnya. Negara yang sudah menjadi cita-cita sedari kecil untuk bisa menginjakkan kaki di sana, yaitu Perancis. Oiya, jangan lupa untuk belanja beraneka coklat, karena Swiss merupakan salah satu negara yang terkenal dengan produksi coklat-nya. Sampai jumpa di kisah tertunda selanjutnya...

Senin, 10 April 2017

Cerita Kuliner Trip: Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta - nuraisya blog

Sebagai warga kelahiran kota Jakarta, Planetarium yang berlokasi di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat seringkali menjadi salah satu tujuan darmawisata sewaktu kecil. Sebagai tempat ajaib yang menyajikan pemandangan langit yang menakjubkan, bagaimana tidak, kita bisa melihat gugusan bintang meskipun di luar sedang siang bolong. Alhasil ke sanalah kami akhir pekan kemarin, seakan untuk mengulang ketakjuban yang pernah dirasakan semasa kecil dulu plus mengajak seseorang yang ternyata belum pernah ke sana sama sekali (ini beneran loh ^.^) 

Lorong Zodiak, berisi sederetan ilustrasi menawan hasil karya dari Kagaya yang mewakili setiap zodiak
Tampak depan Planetarium, Taman Ismail Marzuki (Sumber: liburananak.com)
Adapun harga tiket masuk pertunjukkan planetarium terbaru yang berlaku per November 2016 sebagai berikut:
  • Rp.12.000,- untuk dewasa
  • Rp.  7.000,- untuk anak-anak
Jam pertunjukan planetarium pada hari Sabtu-Minggu pkl 11.30 - 13.00. Antrian tiket dibuka 1 jam sebelum pertunjukkan, tapi sudah bisa mulai mengantri sebelumnya. Pertamanya agak bingung dengan sistem antrian di sana karena kita diarahkan untuk mengantri di barisan bangku panjang dahulu, menjelang pukul 10.30 petugas akan berkeliling mendata jumlah tiket yang mau dibeli oleh masing-masing pengantri (max. 6 tiket per pengantri), lalu memberikan secarik kertas bertuliskan total jumlah tiket. Setelah semua selesai didata atau sudah mencapai kuota sebanyak kurang lebih 370 penonton maka para pengantri sudah mulai bisa menukar kertas tadi dan membeli tiket ke loket. Setelah tiket pertunjukan planetarium di tangan selebihnya tinggal menunggu tangga ke teater pertunjukkan dibuka pada pukul 11.30. Sambil menunggu, kita bisa berkeliling sejenak mengenal lebih dekat tata surya kita di ruang pameran yang terletak di bangunan yang sama.

Salah satu karya indah Kagaya mewakili Zodiak Libra di Lorong Zodiak
Globe raksasa, bisa diputar juga seperti layaknya globe pada umumnya.
Di sepanjang dinding pameran membabarkan sejarah terbentuknya alam semesta kita, berawal dari teori Big Bang (Ledakan Dahsyat).
Miniatur yang menggambarkan proses ekskavasi meteor yang menghantam bumi.
Diorama yang menceritakan bagaimana para astronot yang berhasil mendarat di bulan, satelit dari planet bumi kita.
Mengabadikan bintang kelahiranku, si kalajengking "Scorpio"
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11.30, saatnya untuk kembali ke antrian ke tempat pertunjukkan di depan tangga ke lantai dua yang ternyata sudah penuh dengan para pengantri yang ingin masuk duluan supaya bisa dapat tempat duduk yang bagus. Setelah mendapat posisi duduk yang cukup nyaman untuk menonton (sandaran bangku bisa dimundurkan sampai pol kalau ingin mendapatkan best view). Setelah semua penonton duduk rapi, pertunjukkan pun dimulai, tidak ada foto yang bisa diambil di sini karena semua jenis cahaya sangat dilarang selama pertunjukan karena mengganggu jalannya pertunjukan itu sendiri. Nonton dulu ya...

Tempat dimana keajaiban yang kurasakan semasa kecil akan terulang.
Wow, wow dan wow, tidak percaya rasanya melihat langit penuh bintang, rasi-rasi bintang, bintang jatuh, dan menjelajah antariksa mengenal planet-planet dalam tata surya kita dari dekat masih tetap semenakjubkan seperti dulu. Walaupun tidak sampai berteriak dan bertepuk tangan heboh lagi seperti rombongan anak-anak di barisan depan, tapi pertunjukan planetarium tetap agenda menarik untuk mengisi akhir pekan. Jadi pengen tidur setelah disuguhi langit malam penuh bintang yang hampir tidak bisa kita temui lagi di langit Jakarta tercinta ini. Pamit bobo dulu ya, sampai jumpa di kunjungan lainnya... ^·^


Planetarium dan Observatorium Jakarta
Jl. Cikini Raya No. 73 
RT 8 / RW 2
Cikini, Menteng
Jakarta Pusat