Tampilkan postingan dengan label italy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label italy. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 April 2014

Cerita Kuliner Trip: Rainy Milan, Italy - nuraisya blog

Minggu, 15 September 2013
Milan
Setibanya di stasiun Centrale Milan, kami langsung membeli tiket kereta menuju kota Luzern (Swiss) seharga 67 dan tiket "ATM" seharga 8.5 yang berlaku selama 48 jam untuk semua jenis transportasi di Milan (subway, tram dan bis). Di kota modenya Italy ini kami langsung disambut dengan hujan pertama selama perjalanan kami di Eropa Barat. Hujan yang cukup deras membuat kami cukup kesulitan dalam usaha pencarian alamat Ostello Bello, tempat kami akan bermalam. Di antara kami berempat hanya aku yang membawa payung itupun hanya bisa pas-pasan untuk dua orang, sehingga yang lainnya pasrah saja menikmati rasanya mandi hujan di Milan. Lagi-lagi di sini kami ditolong oleh orang lokal yang dengan ramahnya mencarikan jalan tempat hostel kami berada di smartphone-nya. Lokasi hostel kami sebetulnya mudah dijangkau dan cukup dekat dengan Duomo, cukup naik line hijau dari Centrale stasiun tempat kami turun. Ostello Bello merupakan hostel yang nyaman buat para backpacker, sambil menunggu proses check-in kami langsung disuguhi welcome drink pilihan kami. Ada pengalaman yang kocak dari "welcome drink" ini, mungkin karena kedinginan habis berhujan-hujan dan kelaparan sambil cari alamat pilihan kami berempat langsung kompak ke Red Wine, dengan pikiran yang sama buat menghangatkan tubuh. Segera setelah menyerukan pilihan kami, empat gelas berisi red wine pun disajikan dan langsung ditenggak dengan rakusnya. Setelah mendapat kunci dan diantar oleh petugas ke kamar, salah seorang temanku mengeluhkan pusing yang disusul oleh teman lainnya, aku pun mengiyakan sambil setengah berpikir dalam mode lambat. Pantas saja saat kembali ke counter tadi jalanku sudah tidak benar-benar lurus lagi, sambil saling mentertawakan kebodohan kami. Sepertinya kami sudah mabuk oleh red wine yang tidak tahu berapa persen kadar alkoholnya itu. Untung kemabukan kami itu tidak berlangsung lama, setelah menenangkan diri beberapa saat sambil mengumpulkan baju-baju yang akan dititipkan ke counter hostel untuk dicuci kami segera berangkat menuju tujuan pertama di kota Milan.
Stasiun kereta Centrale di Milan, mewah banget berasa di dalam mall

Castello Sforzesco (Sforza Castle)
Diriku di tengah guyuran hujan di Sforza Castle
(difotokan oleh Leny)
Merupakan sebuah istana yang dibangun pada abad ke-15, berbentuk seperti segi empat dengan lapisan gedung membentengi di setiap sisinya lengkap dengan parit di sisi luar benteng dan gerbang masuk berbentuk jembatan angkat (citadel). Nama Sforza sendiri berasal dari nama keluarga yang berkuasa di Milan pada zaman Renaissance. Francesco Sforza yang meneruskan pembangunan dan restorasi dengan model citadel ini juga menambahkan menara pada konstruksinya. Sempat mengalami beberapa rekonstruksi lagi dan menjadi pusat pertahanan pada masa perang, namun kini sudah resmi menjadi museum yang terbuka untuk umum. Untuk menuju Sforza Castle pertama-tama kami harus kembali ke Duomo untuk naik Metro (subway-nya Milan) line merah dan turun di Cadorna. Sebetulnya ada dua cara menuju Duomo dengan berjalan kaki atau naik tram, karena hujan sudah mulai berhenti dan belum tau naik tram harus tunggu dimana kami memilih berjalan kaki sambil window shopping di pertokoan sepanjang jalan. Kami tiba di Sforza Castle sudah mendekati jam tutup sehingga hanya bisa berfoto di dalam komplek istana saja tidak sempat untuk masuk ke museumnya yang katanya sangat luas. Masuk ke istana tidak dipungut bayaran, tarif masuk hanya dikenakan untuk yang berminat masuk ke museumnya. Selagi sibuk saling mengambil foto, salah seorang teman kami menghilang ke arah toilet. Sampai jam kunjung berakhir dan petugas mempersilakan para pengunjung segera pulang supaya bisa menutup gerbang istana, teman kami yang satu itu belum muncul juga. Hadeuh bagaimana ini pikir kami, sambil sibuk menjelaskan ke petugas kalau teman kami masih ada di dalam toilet. Ga lucu kan kalau sampai terkunci di dalam istana gara-gara kelamaan nyetor. Akhirnya setelah menunggu beberapa saat teman kami pun muncul dengan muka tak berdosa, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih ke pak petugas yang sudah sabar menunggu sebelum bertolak dari istana. Di depan istana ini pula kami pertama kali bertemu dengan orang kulit hitam yang menawarkan gelang persahabatan gratis ke salah satu temanku dengan super duper ramahnya, yang sudah pasti ada apa-apanya. Dan benar saja saat kami menghampiri untuk mengajak pergi teman kami menjauh dari orang tersebut, ramahnya langsung digantikan dengan umpatan yang kena sensor kalau dituliskan di sini. Itulah wujud aslinya, tidak menghiraukan lebih jauh kami langsung berlalu menuju Duomo kembali.

Sforza Castle dari sisi dalam, tembok sisi luar dengan kokoh membentengi

Duomo di Milano (Milan Cathedral)
Mejeng di depan Duomo di keesokan paginya
(difotokan oleh Leny)
Nah, kalau gereja yang satu ini sering kami lewati selama di Milan karena dekat dengan hostel. Gereja bergaya gothic yang didedikasikan kepada Santa Maria Nascente ini merupakan gereja terbesar di Italia dan nomor lima terbesar di dunia. Tidak heran pembangunannya baru selesai tahun 1865, hampir enam abad sejak peletakan batu pertamanya pada tahun 1386. Selama kurun waktu tersebut pembangunan Duomo ada di tangan berbagai arsitek dan insinyur, sehingga gaya interior-nya pun cenderung beragam mengikuti gaya masing-masing pembuatnya (walau belum sempat melihatnya secara langsung). Sempat tersendat dalam penyelesaiannya karena masalah dana, sampai ada penggalangan dana salah satunya program adopsi patung gargoyle yang menghiasi eksterior gereja. Untuk bisa masuk tidak dipungut bayaran, cukup dengan berpakaian sopan saja. Atap Duomo juga terbuka untuk umum dengan membayar biaya masuk buat yang ingin melihat detail pada puncaknya. Malam itu kami hanya berfoto di depan Duomo saja, dan berencana kembali ke sini dengan pakaian yang lebih sopan di keesokan harinya.
Penampakan Duomo di kala senja, di tengah guyuran hujan
Kemegahan Duomo lebih terlihat di pagi yang cerah

Galleria Vittorio Emanuele II
Kubah di tengah mal
(koleksi foto Leny)
Bangunan ini masih bertetanggaan dengan Duomo, merupakan salah satu mal yang tertua di dunia. Didirikan oleh Vittorio Emanuele II, raja pertama Kerajaan Italy. Terdiri dari empat tingkat, berupa dua gang beratap kaca yang menyambungkan Piazza del Duomo dan Piazza della Scala. Di titik pertemuan kedua gang tersebut berbentuk segi delapan dengan atap kaca berbentuk kubah. Di dalam mal ini terdapat berbagai toko barang bermerk mulai dari baju, perhiasan, buku, lukisan, juga terdapat restoran, bar dan kafe yang sering jadi tempat berkumpul. Pemandangan mal ini di malam hari jauh lebih indah ketimbang di siang hari saat kami pertama datang. Hanya saja pertokoan di sini cenderung tutup lebih cepat ketimbang di Indonesia, saat kami datang saja sudah banyak toko yang tutup padahal baru sekitar jam 8 malam. Jadi kalau ada yang niat belanja atau sekedar melihat-lihat isi toko silakan datang lebih awal ke sini. Dari sini kami kembali menuju ke hostel, sambil sesekali mampir di pertokoan yang kami lewati. Setiba di Ostello Bello kami mengambil paket makan malam di sana, dengan membeli salah satu jenis minuman di bar dapat mengambil makan sepuasnya. Saat memesan kami memastikan terlebih dahulu jenis minuman racikan mana yang non alkohol, demi menghindari kejadian seperti siang harinya. Dengan ini berakhir sudah hari pertama kami di Milan, saatnya istirahat.

Tampak luar Galleria Vittorio Emanuele II
Bagian dalam mal, bisa dilihat memang pantas menyandang mal tertua yang terbesar

Senin, 16 September 2013
Milan
Pagi yang cerah mengawali hari kedua
kami di Milan
Pagi kami diawali dengan menikmati breakfast di Ostello Bello dan check out lebih dahulu. Karena masih ada satu tujuan kami di Milan sebelum kami menyeberang ke negara Swiss. Cuma ada satu masalah yang sempat membuat kami agak khawatir, yaitu laundry pakaian kami masih belum siap. Tapi mereka berjanji kalau pakaian kami sudah bisa kembali ke tangan kami saat kami kembali untuk mengambil bagasi yang dititipkan di hostel. Rencana kami di hari kedua di Milan adalah ke tempat yang digandrungi oleh para fans sepak bola, terutama yang mengidolakan klub AC Milan atau Inter Milan. Dalam perjalanan kami sempatkan mampir kembali di Duomo, untuk mencoba masuk. Sayangnya dua di antara kami tidak boleh masuk karena memakai celana pendek. Sekedar mengingatkan, untuk bisa masuk diwajibkan untuk berpakaian sopan dan bagi yang tidak mematuhi akan dicegat petugas berjas rapi seperti yang aku alami. Apa daya aku dan seorang temanku hanya bisa menunggu, karena memang hanya pakaian inilah yang tersisa untuk dipakai (yang lainnya sedang dicuci dan belum selesai). Selama menunggu lagi-lagi kami menyaksikan aksi orang kulit hitam di pelataran Duomo ini. Di pagi hari yang cerah sosok Duomo terlihat lebih memukau, burung-burung dara pun banyak berkumpul di depannya. Sayang keberadaan burung dara tersebut dimanfaatkan sebagian orang untuk memeras turis. Begitu memasuki pelataran Duomo seorang kulit hitam langsung menghampiri sambil menawarkan makanan burung "Free... Free..." begitu kita menerima karena mengira gratis di situlah jebakan dimulai. Ia akan menawarkan kita untuk berfoto di tengah sekumpulan burung dara yang berkumpul karena kita beri makan. Begitu selesai berfoto ia akan langsung menagih bayaran, aku tidak tahu berapa yang pasti melebihi harga semestinya dari makanan burung yang kita terima tadi. Jadi begitu ada yang menghampiri menawarkan sesuatu yang gratis, lebih baik tolak dengan tegas. Bila masih dipaksa juga seperti yang aku alami pasang muka ketus dan jawab kalau tidak suka burung (maaf ya burung, jadi kalian yang kena). Setelah berkumpul lagi dengan kedua teman yang lain, saatnya lanjut ke San Siro menggunakan Metro line merah dari Duomo ke arah Fleramilano (line merah terbagi dua, jangan salah naik) dan turun di Lotto.
Berpapasan dengan pasangan yang kompak ber-cosplay ria, langsung yang terlintas
di pikiran adalah seberapa besar koper yang dibawa bila semuanya kostum model ini?

Stadio Giussepe Meazza / San Siro
San Siro Gal, dengan warna pakaian senada
Faktor kebetulan karena baju lain sedang dicuci
(difotokan oleh Cecil)
Tiba di Lotto, kami kembali bertanya jalan ke beberapa orang yang kami temui termasuk pak polisi yang sedang mangkal di dalam mobilnya. Berbekal pengarahan dari pak polisi kami akhirnya berhasil mencapai tujuan kami, walau sedikit meleset dari segi waktu. Menurut pak polisi kita tinggal lima menit  jalan kaki, pada kenyataannya kami menghabiskan hampir setengah jam. Mungkin ukuran kaki kami dan si polisi bule yang menyebabkan perbedaan waktu tersebut, yah mungkin saja atau memang sekedar mengerjai. Kami tiba beberapa saat sebelum San Siro buka, jadilah kami pengunjung pertama yang mengantri di depan loket (ga bisa disebut antri juga wong masih kosong). Setelah menunggu beberapa saat akhirnya loket dibuka, kami segera membeli tiket masuk seharga 14 (paket tour). Dari pintu masuk kami langsung diarahkan ke San Siro Museum. Di sana kami melihat-lihat deretan piala, pakaian bola, foto-foto, dan patung dari para pemain bola Inter Milan maupun AC Milan. Buat yang belum tahu stadion San Siro ini merupakan kandang dari dua klub sepak bola yaitu A.C. Milan dan F.C. Internazionale Milano (Inter Milan). 
Grafitti yang menghiasi sepanjang jalan yang kami
lalui menuju San Siro. Jalan kaki pun tidak terasa
melelahkan lagi, walau agak jauh
Untuk nama San Siro berasal dari nama distrik tempat stadion ini berdiri, sedangkan Giussepe Meazza berasal dari nama pemain sepak bola lawas dari klub Inter yang berhasil membawa Italia menjadi juara dunia berturut-turut. Pada awal berdirinya di tahun 1926 Stadion San Siro hanya ditujukan untuk AC Milan, Inter baru mulai berbagi kandang sejak tahun 1947 sampai dengan sekarang. Sedikit berita menggembirakan untuk warga Indonesia adalah kepemilikan saham atas klub Inter saat ini mayoritas dipegang oleh Erick Thohir, seorang pengusaha muda Indonesia. Saat kami berkunjung ke Milan kemarin, berita Erick Thohir akan membeli Inter sedang marak-maraknya di kalangan warga Italia. Sebagian besar dari mereka sangat menyayangkan keputusan Moratti menjual Inter ke tangan orang asing. Kami sempat ditanya perihal ini saat check in di Ostello Bello dan memberi tahu asal negara kami adalah Indonesia, alhasil kami cuma bengong saja karena memang belum tahu. Kembali ke tour kami, setelah mengelilingi museum kami dipanggil berkumpul untuk mengikuti tour singkat ke dalam stadion. 
Mejeng di depan loket yang masih tertutup rapat
(difotokan oleh Tius)
Si mas tour guide yang ganteng menjelaskan sejarah San Siro sambil menggiring kami ke dalam stadion, tempat duduk penonton deretan VIP yang dilanjutkan ke ruang ganti masing-masing klub. Di sini kami dibagi menjadi dua kelompok yang ingin masuk duluan ke ruang ganti AC Milan atau Inter Milan. Kami kompak memilih menyambangi AC Milan terlebih dahulu dan yang mendapat kehormatan untuk membuka kunci pintunya tak lain adalah temanku, Cecil, how lucky! Yang kocak Cecil yang kaget karena terpilih membuka kunci pintu dengan paniknya, sampai-sampai lupa untuk berpose untuk kami abadikan (biasanya narsis). Menurut penjelasan si mas, ruang tunggu kedua klub ini sangat berbeda. Tempat duduk para pemain di ruang tunggu AC Milan berupa jejeran sofa duduk satuan, dimana setiap pemain memiliki tempat duduk dan posisinya masing-masing. Sedangkan tempat duduk di ruang tunggu Inter Milan berupa satu bangku kayu panjang setengah lingkaran yang menggambarkan kesatuan tim dari para pemainnya (rasa kebersamaan kali ya). Selepas dari ruang tunggu kami digiring menuju ruang foto berlatar logo para sponsor dan pintu masuk ke dalam lapangan dan berakhir di San Siro Store tempat belanja suvenir dari kedua klub Milan tersebut. Berakhir sudah tour kami di San Siro, saatnya kembali ke hostel untuk mengambil bagasi dan laundry kami. Untungnya laundry kami sudah selesai seperti yang dijanjikan, segera kami berbagi cucian dan merapikannya ke dalam tas masing-masing dan berangkat menuju stasiun kereta untuk lanjut ke negara berikutnya, Swiss. Sampai jumpa Milan, arrivederci Italia!

Trotoar yang kami lalui menuju ke San Siro Stadium dengan grafitti di sepanjang jalan
Lapangan Pacuan Kuda San Siro, juga kami lalui di perjalanan menuju stadium
Akhirnya tiba juga di tujuan, pose dulu di depan San Siro Stadium
(difotokan oleh Leny)
Mobil Alfa Romeo yang keren ini hasil foto iseng selama nunggu loket buka
Segelintir isi dari San Siro Museum
Bagian dalam stadium, tepatnya di sisi penonton baris merah "Rosso" di bawah bagian VIP
Ruang gantinya AC Milan, ada yang bisa tau bangku Kaka yang mana?
Mejeng dulu di depan kapten-nya Inter, di ruang ganti Inter, bisa dilihat bangku duduknya
menyatu berupa bangku panjang (difotokan oleh Leny)
Saatnya berangkat dengan kereta menuju ke negara tetangga, Swiss.
Jangan berani-berani angkat kaki ke atas bangku walau banyak tempat kosong, kalau tidak mau didenda.

Rabu, 02 April 2014

Cerita Kuliner Trip: Romantisnya Venice, Italy - nuraisya blog

Sabtu, 14 September 2013
Venice
Kompak gangguin Cecil
yang sedang berpose
(difotokan oleh Tius)
Setelah puas menikmati perjalanan ekslusif seharga 45 dengan kereta Trenitalia dari Florence, akhirnya kami tiba di Stasiun Santa Lucia, Venice. Sedikit bergegas mengangkat barang turun dari kereta, membeli tiket vaporetto "one day pass" Actv seharga 20 di loket dekat dermaga untuk bebas menaiki waterbus sarana utama kami selama di Venice. Berbekal tiket di tangan, kami langsung mengantri waterbus no.2 dengan tujuan dermaga Rialto dimana Foresteria Valdese tempat kami menginap berada. Mencari jalan di Venice ternyata susah-susah gampang, susunan gedung yang tinggi dan rapat serta jalanan yang berupa gang-gang sempit membuat perjalanan kami menuju hotel agak terlambat dari jadwal semula. Ditambah dengan medan yang naik turun jembatan dan anak tangga mungkin akan menyulitkan buat yang membawa koper besar. Dengan rajin bertanya di beberapa persimpangan jalan, kami akhirnya tiba juga di Foresteria Valdese. Untung saja ada fasilitas lift di sini, bisa pingsan kalau disuruh jadi kuli panggul lagi. Yak, mari kita menjelajah kota Venice, pulau yang kalau di peta mirip dengan ikan angler sedang berenang (pendapat pribadi yak).

Kota Venice yang selalu padat dengan turis

Piazza San Marco
St.Mark's Basilica (Basilica di San Marco)
Mejeng sebentar di depan St.Mark's Basilica
(difotokan oleh Leny)
Dengan berjalan kaki sedikit dari hotel kami bisa segera tiba di Piazza San Marco dimana St.Mark's Basilica berada. Tenang saja kita bisa dengan bebas berjalan kaki di sini tanpa perlu terganggu oleh kendaraan lewat, Venice merupakan salah satu kota surganya para pejalan kaki selain Florence yang sama-sama di Italy. Sambil berjalan kaki kita bisa menikmati pemandangan di sekitar kita sambil sesekali mampir ke toko untuk membeli cindera mata. Cuci mata, mulai dari ngelirik-lirik sampai candid pasangan pengantin yang entah kenapa banyak sekali kami temui di sini, sesama turis, dan pastinya cogan-cogan Italia hehehe. Setiba di lokasi dikarenakan perjalanan yang sedikit berubah dari jadwal semula, kami harus cukup puas untuk berfoto di depan St.Mark's Basilica saja. Cukup puas karena lagi-lagi sebagian besar bangunan megah tersebut sedang dalam tahap konservasi, mungkin musim panas memang lagi musimnya kali ya. Sedikit tentang St.Mark's Basilica, katedral yang paling terkenal di Venice ini juga dikenal dengan nama Chiesa d'Oro (Gereja Emas) dikarenakan interior-nya yang didominasi warna emas. Sayang memang sudah jauh-jauh ke sini tapi tidak sempat melihat bagian dalamnya. Tapi perjalanan harus tetap lanjut, saatnya ke Doge's Palace.

Bell Tower, masih di Piazza San Marco
Topeng karnaval yang banyak dijual di pertokoan menggoda untuk dibeli
Kami juga akhirnya tergoda membeli yang versi  ekonomis
Sepasang pengantin yang sedang sesi pemotretan
setelah usai melangsungkan pernikahan di salah satu gereja di Venice

Doge's Palace (Palazzo Ducale)
Eksterior Doge's Palace
Masih di Piazza San Marco, bersebelahan dengan St.Mark's Basilica. Pada awalnya sebelum menjadi museum istana ini merupakan tempat kediaman dari orang yang memiliki kekuasaan tertinggi di Republik Venice, yang lebih dikenal dengan istilah Doge. Kami segera meluncur ke sana karena sudah mendekati jam tutup museum (batas maksimal 1 jam sebelum tutup). Untuk bisa masuk ke sini mau tidak mau kita harus membeli tiket kombinasi seharga 16 yang tediri dari tiket masuk ke Doge's Palace, Museum Correr, Museum Arkeologi, dan Perpustakaan Nasional Marciana. Tidak semua ruangan Doge's Palace bisa kita masuki, ada beberapa ruangan yang hanya bisa kita datangi bila mengambil paket tour rahasia dengan ekstra biaya tentunya.
Lorong tangga di dalam
Doge's Palace
Karena Doge's Palace sangat luas, sudah disediakan jalur khusus untuk para pengunjung sehingga tidak akan ada yang tersasar atau sengaja menyasarkan diri. Dimulai dari memasuki pelataran dalam istana, naik ke lantai dua, menyusuri selasar sambil menikmati struktur bangunan dan patung-patung yang menghiasi sudut-sudut istana. Sembari bernarsis ria sampai tiba di  ruangan yang penuh lukisan di lantai berikutnya, karena di ruangan ini dilarang untuk mengambil foto dalam media apapun. Seperti biasa karya lukis menghiasi segala penjuru ruangan-ruangan di lantai tersebut mulai dari dinding sampai dengan langit-langit. Ruangan-ruangan inilah yang sudah menjadi saksi bisu para petinggi masyarakat berdiskusi dan memutuskan vonis atau keputusan penting lainnya di masa lampau Republik Venice.  Di antara sekian banyak ruangan ada juga yang sudah tidak orisinil, dikarenakan kebakaran yang pernah terjadi di istana ini sehingga sudah mengalami proses restorasi.
Gatling Gun, salah satu senjata di ruang
pameran persenjataan
Keluar dari wilayah dilarang foto kami memasuki ruangan senjata, dimana berbagai jenis senjata dipajang dalam etalase kaca. Mulai dari baju zirah, senjata tajam, pistol, senapan, sampai dengan gatling gun ada di sini. Dari salah satu jendela di sinilah Cecil temanku melihat San Giorgio Island memanggil dari kejauhan, dan segera bertanya ke petugas soal pulau tersebut. Rute berikutnya menggiring kami menuju ruang penjara yang sekaligus penutup dari kunjungan kami di Doge's Palace bertepatan dengan waktu tutup museum.

Karena bertetanggaan persis, pucuk St.Mark's Basilica bisa terlihat dari pelataran dalam Doge's Palace
Bisa dilihat bahwa basilica tersebut sedang dalam proses konservasi (perawatan)
Iseng ambil foto patung yang satu ini di salah satu lorong Doge's Palace
Entah kenapa langsung teringat salah satu iklan di televisi tanah air, ada yang tahu iklan apa?

San Giorgio Maggiore Island
Berpose bersama Leny dengan latar belakang
Venice di kejauhan (foto diambil di Pulau San Giorgio)
Sedikit di luar rencana kami memutuskan untuk mengisi waktu kosong sebelum makan malam dengan menyeberang ke Pulau San Giorgio. Dengan menaiki waterbus no.2 dari dermaga S. Zaccaria masih di area San Marco dengan pemberhentian berikut langsung di pulau tersebut. Sesaat menginjakkan kaki turun dari kapal, kesan yang didapat ternyata pulau ini sepi sekali seakan pulau ini milik kami saja. Alhasil bernarsis rialah kami di sana sembari menikmati Venice dari kejauhan di tengah cahaya jingga matahari yang sudah mulai kembali ke peraduannya. Satu lagi pemandangan menakjubkan yang akan terekam di memoriku yang sudah mulai suka pikun ini. Sebetulnya di pulau ini terdapat gereja lengkap dengan menara bel-nya namun sudah tutup saat kami tiba. Selain gereja juga terdapat biara yang pada era republik merupakan pusat dari teologi, kebudayaan dan seni. Sempat beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan senjata dan basis militer di masa kelamnya. Sampai akhirnya pemerintah Italia menetapkan biara ini sebagai salah satu warisan budaya dan kembali berfungsi sebagai pusat kesenian. Ketika malam sudah sepenuhnya menggantikan siang, kami pun bersiaga di depan dermaga menunggu jemputan waterbus yang secara berkala singgah di pulau ini.
Pulau San Giorgio (foto diambil dari ruang senjata Doge's Palace)
Kebetulan ada kapal layar melewati Pulau San Giorgio saat kami sedang menikmati sunset di sana
Termasuk salah satu foto langka, dimana kami berempat lengkap berfoto bersama
Karena pulau ini sepi, bisa tinggal kamera pakai timer tanpa takut disamber orang

Vaporetti Ride
Inilah wujud dari waterbus yang sedang menjemput
para penumpangnya
Venice memang pantas menyandang kotanya para turis, vaporetti (waterbus) tetap beroperasi di malam hari untuk kemudahan mobilitas para turis. Memang sih rute yang disediakan tidak sebanyak kala beroperasi di siang hari. Yang semula terbagi menjadi beberapa nomor rute, pada malam hari digabung menjadi satu rute dengan nomor N dan tetap singgah di hampir semua dermaga utama. Jadilah kami memanfaatkan rute N ini untuk menikmati kota Venice dari atas air, menggantikan Gondola Ride yang cenderung mahal. Memang sih tidak bisa disamakan karena gondola menyusuri Venice dari jalur kanal di tengah kota Venice sedangkan vaporetti mengelilingi sisi luar Venice. Tapi pemandangan yang disajikan tetap tidak kalah memukau, apalagi kami memilih duduk di bagian depan  hanya saja sedikit peringatan duduk di sini angin malamnya dingin menusuk ke tulang jadi jangan lupa bawa baju hangat. Hal penting lainnya, sebetulnya di tiket terusan vaporetti kami tertera gratis masuk kasino tapi berhubung tiket salah satu teman kami hilang pilihan tersebut langsung dicoret. Tidak berapa jauh dari kasino tibalah kami di akhir perjalanan vaporetti kami, kembali turun di dermaga Rialto untuk mencari makan malam dan balik ke hotel untuk istirahat.

Kalau ingin perjalanan di atas air yang lebih romantis boleh mencoba Gondola Ride
Kapal pesiar juga banyak kami jumpai di Venice, foto berikut contohnya
(diambil dari atas waterbus)

Minggu, 15 September 2013
Venice
Hari terakhir kami di Venice, dengan berat kami kembali menuju ke Stasiun Santa Lucia. Berat dalam arti sebenarnya yaitu nguli koper masing-masing kembali ke dermaga Rialto dan berat karena harus meninggalkan Venice. Masih banyak sekali yang bisa kami jelajahi di sini tapi apa daya karena terbentur waktu hanya sampai di sini penjelajahan kami di Venice. Setibanya di stasiun kami langsung membeli tiket menuju Milan masih Trenitalia dengan harga 18.5. Selamat tinggal Venice, semoga kita masih bisa bertemu lagi di lain waktu.

Sarapan kami di Foresteria Valdese, perlu dicatat di hotel ini kita boleh buat minuman
sepuasnya setiap saat (tidak hanya pada jam breakfast saja) mulai dari kopi, teh dll

Verona
Stasiun Kereta Verona
Kota yang satu ini sempat menjadi salah satu perhentian kami, namun karena setelah diskusi terakhir akhirnya Verona dicoret dari itinerary kami. Karena takut dengan banyaknya kota yang disinggahi dalam waktu yang terbatas membuat kami jadi terburu-buru dan kurang menikmati. Sedikit info buat yang belum tau, Verona merupakan kota asalnya Romeo dan Juliet tokoh fiktif dalam karya sastra Shakespeare. Di Verona sendiri walau Juliet hanyalah seorang tokoh fiktif, tetap ada rumahnya yang bisa kita kunjungi dimana di halamannya terdapat patung Juliet yang dikisahkan cintanya berakhir tragis. Kota kecil yang cantik ini sebetulnya sejurus dengan rute kereta Venice-Milan, sehingga kami masih melewati stasiun Verona dalam perjalanan kami. Perjalanan kereta kami ke Milan mengakhiri post kali ini, eksplorasi kami di Milan akan dibahas di post berikutnya. Sampai jumpa lagi ^_^

Sedikit pemandangan kota Verona (foto diambil dari dalam kereta)

Kamis, 27 Februari 2014

Cerita Kuliner Trip: Pisa & Florence, Italy - nuraisya blog

Jum'at, 13 September 2013
Pisa
Akhirnya perjalanan kereta antar kota pertama di Eropa (Rome ke Pisa), karena kami hanya singgah di Pisa maka penitipan koper pun menjadi tujuan pertama kami setiba di Stasiun Pisa. Daripada menenteng koper sembari menjelajah kota lebih baik merogoh kocek beberapa euro dan kita pun bisa meninggalkan barang bawaan kita dengan tenang. Oiya, jangan lupa untuk beli tiket kereta tujuan berikutnya sebelum meninggalkan stasiun (untuk kami waktu itu adalah Florence). Kota Pisa mungkin merupakan kota terpanas dari seluruh kota yang kami singgahi selama perjalanan kami di Eropa kala itu. Selain terik kami juga sempat nyasar saat perjalanan balik dari The Leaning Tower ke stasiun kereta. Saking teriknya, kulit kakiku yang hari itu sok-sokan pakai sendal jepit langsung kering dan pecah-pecah. Oke cukup curhatnya, mari kita bahas apa saja sih yang kami lakukan di kota Pisa...

Foto tampak belakang aku saat menjelajah kota Pisa (foto oleh Leny)
Dengan rambut sedikit awut-awutan sehabis nabung tidur di kereta sebentar
Barisan wine yang menggoda, terutama buat para kolektor miras (ada 2 di pasukan kami)
Sayang aku bukan salah satu penggemar jenis minuman yang satu ini
Sekelumit gambaran kota Pisa di bawah hamparan langit biru nan cerah, indah bukan??

01. The Leaning Tower of Pisa
Aku dan Leny sedang berpose geje
di depan menara Pisa
(ceritanya si nyender gitu)
Difotokan oleh Cecil
Menara yang satu ini kayaknya tidak perlu penjelasan lebih jauh, karena banyak yang bilang belum ke Italy namanya kalau belum melihat atau berpose jayus di depan menara yang miring ini. Kenapa sih harus pose jayus? Kalau ditanya seperti itu bingung juga ya jawabnya, mungkin karena kemiringan si menara tersebut seakan-akan memanggil hati kecil kita untuk menjawab tantangannya berpose di depannya dengan berbagai pose yang nyeleneh. Konon menara ini miring bukan karena disengaja loh... Semua itu bermula dari masa pembangunannya, waktu itu tanah tempat si menara ini berpijak terlalu lembek untuk menopang bobot menara dan kian miring dari hari ke hari. Hingga di suatu titik akhirnya stabil dan jadi seperti sekarang ini. Siapa sangka gara-gara kesalahan teknis tersebut menara miring ini malah menjadi salah satu kebanggaan Italy terutama buat kota Pisa.

Untuk ke sini dari stasiun sebetulnya mudah, cukup mengikuti petunjuk jalan dan bertanya pada beberapa orang lokal sepanjang perjalanan kita bisa tiba di sana dalam waktu yang singkat. Memasuki komplek The Leaning Tower tidak dipungut bayaran alias gratis tis tis... jadi tidaklah heran bila banyak turis yang berseliweran dengan pose-pose jayusnya di setiap penjuru komplek tersebut (termasuk kami tentunya hehehe...). Lain halnya untuk bisa masuk dan mendaki ke atas menara dipungut bayaran, dan kami memilih untuk tidak masuk kali itu. Cukup sudah acara daki-mendaki sejak St.Peter's Dome kemarin (simpan energi, perjalanan masih panjang).

Foto geje lainnya, contoh foto yang gagal
(posisi kurang pas, perabotan juga masih keliatan)
Sepulang dari sini kami mampir untuk makan siang di sekitar komplek menara, setelah itu dimulailah perjalanan penuh keringat dan perjuangan akibat tersesat saat kembali menuju stasiun kereta. Yah tapi tidak apa-apa hitung-hitung jalan-jalan menikmati kota Pisa. Setelah puas memutari kota Pisa, akhirnya kami tiba juga di stasiun kereta dengan sedikit tergopoh-gopoh tentunya karena masih harus menebus koper di tempat penitipan dulu. Baru bisa naik kereta, jangan lupa untuk mem-validasi tiket kereta di mesin-mesin yang tersedia di peron tempat kita akan naik (menjaga kemungkinan kena periksa petugas saat di atas kereta, dendanya lumayan bok..). Sedikit cerita di perjalanan kami Rome - Florence yang berjarak cukup dekat plus terlambat naik kereta aku dan seorang teman lagi tidak kebagian tempat duduk, alhasil kami ngemper alias duduk di lantai (kapan lagi coba ngemper di kereta Eropa hehehe).

Pisa Cathedral dan The Leaning Tower of Pisa, kalo di sini keliatan sekali kan miringnya
Banyak yang seru dan asik sendiri berpose geje di komplek ini, mulai dari model sampai fotografernya :p 
Akhirnyaaaa..... ketemu juga stasiunnya, entah kenapa pergi dari depan balik-balik kok tembus dari belakang :o
Yah, yang penting sampai tepat waktu. Bubye Pisa here I come Florence...

Florence
Kota yang satu ini merupakan kota seni-nya Italy. Sebetulnya Florence termasuk kota kecil karena kemana-mana nyaris bisa ditempuh cukup dengan berjalan kaki, selama memilih tempat menginap yang tepat tentunya. Tapi banyak sekali objek wisata yang cukup menarik dan bisa dikunjungi di sini, sayang kami hanya sehari semalam saja menghabiskan waktu di kota yang cantik ini. Segera setiba di stasiun kami langsung menuju ke hostel dan masing-masing mendapat selembar copy peta lengkap dengan penjelasan dari pemiliknya yang baik hati. Setelah salah seorang temanku menandai semua tujuan di petanya, kami segera meluncur ke tempat-tempat yang sudah menjadi incaran kami di kota ini.

Namanya juga kotanya seni, di sini banyak sekali karya-karya seni yang bertebaran menggoda untuk dibeli
Salah seorang temanku akhirnya membeli poster dari salah satu pedagang kaki lima versi Florence
Patung (merman??) merupakan satu dari patung-patung yang bertebaran
 di hampir setiap penjuru kota Florence

02. Galleria dell'Accademia
Sambil nunggu ngantri masuk,
iseng moto mas yang lagi nunggu juga
Yang, kamu dimana?
Dengan bermodalkan peta Florence dari si pemilik hostel, kami tidak begitu kesulitan untuk menemukan tujuan kami yang pertama di kota ini. Sekilas galeri ini tampak serupa dengan bangunan di sekitarnya, yang membedakan hanyalah tali antrian dan petugas penjaga yang dengan tegasnya membatasi jumlah pengunjung yang diperbolehkan masuk ke dalam. Setelah mengantri sejenak akhirnya tiba giliran kami untuk masuk dan menebus tiket masuk seharga €11. Galleria dell'Accademia adalah museum seni yang di dalamnya terdapat banyak patung dan lukisan dari para seniman ternama zaman Renaissance. Tapi yang paling terkenal di antara itu semua adalah "David" sebuah patung marmer hasil karya Michelangelo. Sekilas tentang David atau yang lebih dikenal dengan nama Daud (versi Indonesia), merupakan salah satu tokoh dari Alkitab yang berhasil mengalahkan raksasa bernama Goliath hanya dengan sebuah ketapel. Di sini ia tergambar dengan gagahnya, dengan sosok seorang pemuda telanjang yang sedang berdiri tegak memandang ke samping (entah lagi liatin apa atau siapa). Sosok patung David yang terbuat dari marmer dan berukuran sekitar 5m ini pahatannya sangat amatlah detail. Tidak heran Michelangelo sampai dijuluki jenius pada masanya. Mata, hidung, mulut, rambut ikalnya, otot, sampai bagian lain pada tubuhnya yang tidak bisa disebutkan, pahatannya nyaris sempurna layaknya seorang manusia sungguhan (singkatnya ganteng banget dah hehehe). Sayang ada larangan untuk mengambil foto selama di museum ini. Dan seperti biasa, lagi-lagi salah seorang temanku mencuri-curi untuk mengambil foto yang lagi-lagi disertai teriakan larangan dari petugas yang berjaga di setiap pojok museum.

Tidak bisa mengambil fotonya cukup tiketnya saja
(sambil meringis sedih)
Selain itu ada juga karya-karya menarik lainnya, seperti patung dan mural yang menggambarkan Dante Alighieri, seorang sastrawan ternama yang berasal dari Florence. Karya dari Dante yang paling terkenal "Divine Comedy", menceritakan tentang perjalanannya ke neraka, tempat penyucian dan surga yang juga tergambarkan di salah satu lukisan di galeri ini. Tidak berapa lama berkeliling di sini, tiba saatnya museum tutup yang berarti kami harus meneruskan perjalanan kami ke tujuan berikutnya. Sampai ketemu lagi David... 


03. Basilica di Santa Maria del Fiore (Florence Cathedral)
Tampak depan basilica, foto diambil pada keesokan paginya.
Menara menjulang di sebelahnya adalah Giotto's Bell Tower
Keluar dari Galleria dell'Accademia, kami sedikit berbalik arah kembali ke Piazza del Duomo yang merupakan sebuah plaza yang terletak di jantung kota Florence. Di plaza ini terdapat 3 bangunan yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, mereka adalah Florence Cathedral, Baptistery of St.John dan Giotto's Bell Tower. Dimulai dari Florence Cathedral, bangunan bergaya Gothic-Renaissance ini sudah mulai dibangun sejak tahun 1296 dan menyandang gelar bangunan dengan kubah berbasis batu-bata terbesar di dunia. Bagian luarnya berlapis marmer polikrom beraneka warna, dengan motif yang merupakan ciri khas dari kota Florence. Walau sempat tergiur untuk naik ke puncak kubah basilica ini, kami akhirnya mengurungkannya (sedikit sayang sih, tapi mengingat waktu dan tenaga ini keputusan yang terbaik saat itu). Kami hanya memutari bagian luarnya dan tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa basilica ini sangatlah besar dan luas. Pantas saja basilica ini masuk di jajaran gereja terbesar di Eropa, tepatnya di urutan ke-4. Mengintip bagian dalamnya sejenak, yang dilanjutkan dengan menikmati bagian depan basilica di terpaan cahaya matahari senja.

Basilica dari sisi samping (foto diambil pada keesokan paginya)
Berfoto di sisi samping basilica (foto diambil pada senja hari oleh Cecil)

04. Baptistery of St.John (Florence Baptistery)
Berlokasi tepat di seberang Florence Cathedral, salah satu bangunan tertua di kota Florence (1059-1128). Bangunan berbentuk oktagon ini berfungsi sebagai tempat pembaptisan. Bagian luarnya dilapisi dengan marmer polikrom dengan tampilan yang senada dengan Florence Cathedral. Memiliki 3 pintu di sisi Timur (dikenal juga dengan Gerbang Surga), Utara, dan Selatan. Dimana pada masing-masing daun pintunya berupa relief yang terbagi-bagi menjadi beberapa panel cerita dan para tokoh yang diangkat dari Alkitab. Walau tempat ini terbuka untuk umum, yang sangat disayangkan adalah waktu kedatangan kami kemari yang bertepatan dengan berakhirnya jam kunjungan dan waktu keberangkatan kami dari Florence esok hari adalah sebelum waktu buka. Jadi kami terpaksa melewatkan kesempatan untuk bisa melihat bagian dalam bangunan ini.

Baptistery di kala senja, pintu gerbang timur terlihat dengan jelas di sini (pintu yang mencolok dengan warna emasnya)

05. Pallazo Vecchio (Old Palace)
Old Palace di malam hari
Saatnya beranjak ke pusat kota Florence lainnya yaitu Piazza della Signoria, tempat berdirinya Palazzo della Signoria atau yang kini lebih dikenal dengan sebutan Pallazo Vechhio (Old Palace). Sejarah singkat, bangunan kokoh yang menyerupai kubus ini pernah menjadi pusat pemerintahan keluarga Medici di Florence sampai akhirnya ditinggalkan dan memperoleh gelar Old Palace. Tempat ia berdiri sekarang juga sebelumnya adalah bekas reruntuhan milik keluarga pemberontak. Begitu pula dengan posisi menara yang tidak tepat di tengah, karena memang dibangun dengan memanfaatkan menara kuno sebagai fondasinya. Bisa dibilang dari zaman dulu konsep "reuse & recycle" sudah diterapkan. Kembali ke masa kini, hal lain yang menarik untuk dilihat di sini adalah replika dari patung David-nya Michelangelo "Mini David" yang selalu setia menjaga di depan Old Palace. Disebut mini karena memang ukurannya yang memang jauh di bawah aslinya. Buat yang gagal mencuri foto di Galleria dell'Accademia bolehlah puas-puasin berfoto bersama David di sini, tidak dapat aslinya kw-nya juga bolehlah. Terserah mau berpose apa saja bersama si David yang ini, gratisan pula. Bila berkesempatan datang ke plaza ini di siang hari, wajib mampir ke salah satu museum yang tertua dan terkenal "Uffizi Gallery".

Mini David berpose di depan Old Palace

06. Loggia dei Lanzi
Masih di Piazza della Signoria, tidak jauh dari Old Palace ada sebuah galeri. Loggia dei Lanzi namanya, galeri yang satu ini sedikit berbeda dengan galeri-galeri di Florence yang lainnya. Biasanya kan galeri itu di ruangan tertutup, supaya karya-karya seninya tetap awet. Nah kalau di sini kita bisa nikmatin patung-patung karya seni zaman Renaissance dengan gratis, karena galeri ini terbuka lebar alias ngablak cuma ada atap dan tembok di sisi belakang saja. Jadi bolehlah kita puas-puasin berfoto di sini sambil mengagumi pahatan-pahatan yang detail dengan berbagai latar cerita dan tokoh. Mulai  dari Perseus yang sedang mengangkat kepala Medusa yang sudah terpenggal, Hercules yang sedang bergulat dengan Centaurus Nessus, Menelaus yang sedang menopang tubuh sekarat rekannya Patroclus dan masih banyak lagi tokoh-tokoh dari legenda Yunani lainnya bertebaran di sini.


Buat yang pernah nonton film-nya Brad Pitt "Troy" pastilah kenal dengan tokoh Achilles yang waktu itu diperankannya. Di sini ada juga kisahnya Achilles "The Rape of Polyxena", husss jangan pada ngeres ya rape di sini itu lebih ke arah penculikan. Adegan dari Achilles yang sedang menculik Putri dari Troy Polyxena untuk ditukar dengan mayat si kakak, Hector yang sudah kalah oleh Achilles. Pada pahatan patung berbahan marmer tersebut terlihat Achilles sedang memeluk erat Polyxena, sedangkan di kaki Achilles tergeletak mayat Hector. Di kaki yang satunya lagi terlihat Ratu Hecuba, ibunda dari Polyxena sedang berusaha menahan Achilles yang akan membawa pergi putri tercintanya. Selain itu ada fakta menarik yang mungkin cukup mengecewakan untuk para pecinta seni. Mungkin karena keadaan galeri yang cukup terbuka dan kurangnya pengawasan, nasib si kakak "Hector" sering kehilangan jari tangannya oleh pengunjung yang usil. Semoga kalian yang membaca artikel ini termasuk golongan orang yang bertanggung jawab dan menghargai setiap peninggalan sejarah baik di negara orang maupun di negara sendiri ya...

"Menelaus supporting the body of Patroclus"
"Hercules beating the Centaur Nessus"

07. Ponte Vecchio (Old Bridge)
Tidak banyak yang bisa aku ceritakan mengenai jembatan ini, Ponte Vecchio adalah sebuah jembatan tua yang membentang di atas Sungai Arno, Florence. Yang unik dari jembatan ini adalah toko-toko yang dibangun menyatu dengan jembatan itu sendiri. Mulai dari pedagang perhiasan, karya seni sampai pedagang cindera mata ada di sini. Jembatan ini juga memiliki mitos yang entah kapan bermula, konon pasangan yang menggantungkan gembok di sepanjang Ponte Vecchio dan melemparkan kuncinya ke sungai cintanya akan abadi. Sayangnya aksi tersebut merusak kelestarian dari jembatan yang sudah cukup berumur ini. Dan pada akhirnya diberlakukan denda untuk meredam aksi perusakan tidak langsung tersebut sebesar €160, dan cukup berhasil (iyalah, siapa juga yang mau bayar segitu mending buat makan). 

Ponte Vecchio di malam hari

08. Nonton Konser Gratis di malam hari
Buat yang suka nonton orkestra tapi ga modal, nah kalo lagi mengelilingi kota Florence silakan pasang kuping selebar-lebarnya. Seperti kami sewaktu dalam perjalanan balik dari Ponte Vecchio, sayup-sayup terdengar alunan merdu orkestra, sontak kami langsung mengikuti arah suara dan kerumunan orang terdekat yang sama-sama menikmati dari luar sebuah gereja. Yang pasti nonton orkestra secara live dari dekat seperti ini hal yang baru buatku, walau ga bisa dibilang dekat-dekat amat wong dari luar gereja di tengah kerumunan orang pula. Sambil dalam hati berpikir "ohhh, begini toh orkestra seperti di komik Nodame Cantabille..." disertai dengan muka takjub setengah ngeces.

Ini loh orkestra yang dimaksud, foto diambil dari luar

09. Berjalan kaki keliling kota di malam hari
Lambang zodiak-ku "Scorpio"
Yang namanya travel tuh belum asyik kalau tidak dihabiskan untuk berjalan kaki menikmati pemandangan setiap pelosok kota yang kita datangi. Untuk kota Florence tidak terkecuali, baik siang maupun malam memiliki keindahan masing-masing. Semisal lambang zodiak yang terhampar di salah satu pinggiran jalan dekat Uffizi Gallery ini, kalau malam pasti tidak begitu terlihat. Begitu pula dengan carousel (komidi putar) yang bertebaran hampir di tiap kota Eropa pada malam hari, model-model pasar malam di Indon gitu kali ya. Wisata kuliner juga ga kalah seru di malam hari, salah satunya Venchi gelato yang super enak (akan dibahas di postingan lain).


Deretan zodiak yang menyala di tengah kegelapan
Kuda-kuda di carousel sedang beraksi


Sabtu, 14 September 2013
10. Basilica of Santa Maria Novella
Gereja yang merupakan basilica (gereja besar) pertama yang didirikan di kota Florence ini berlokasi tepat di seberang stasiun kereta. Sebetulnya gereja ini tidak termasuk di daftar tujuan kami di Florence, secara tidak sengaja dalam perjalanan balik ke hostel sepulang menjemput dua teman kami yang mengikuti kebaktian di Florence Cathedral sambil belanja souvenir. Kami hanya sempat foto sebentar di depan basilica yang memiliki banyak chapel di dalamnya ini, karena mengejar jadwal kereta ke kota berikutnya.

Basilica of Santa Maria Novella di pagi hari
Interior kereta dari Florence ke Venice, kerennn... bisa tidur pulas hehehe
Saatnya melanjutkan perjalanan ke Venice kota yang paling romantis dan kota nya fashion sekaligus kandang sebuah klub bola terkenal di Italy, Milan. Kali ini naik kereta yang lebih bagus dengan seat yang dibook jadi tidak perlu khawatir bakal ngemper di dalam kereta. Tapi di review selanjutnya ya... bye for now... ^-^