Tampilkan postingan dengan label Buddha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddha. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Mei 2014

Cerita Kuliner Trip: Angkor Wat, Siem Reap, Cambodia (Kamboja) - nuraisya blog

Siem Reap, 18 Februari 2014
Sekilas tampilan kota Siem Reap
Penerbangan kami dari Bangkok menuju Siem Reap, Kamboja tergolong cukup singkat. Persis setelah selesai makan dan mengisi form masuk negara Kamboja, pesawat pun mendarat di Siem Reap International Airport. Segera menuju loket imigrasi, dimana om dan tanteku ada yang tercegat karena ada satu form yang terlewat untuk diisi. Nyaris saja dimintai salam tempel, kalau pemimpin rombongan kami tidak menghampiri. Yah, negara ini memang sebelas dua belas dengan negara kita kalau soal sogok-menyogok. Setelah semua barang dan anggota rombongan lengkap di bus masing-masing saatnya mulai perjalanan di Kamboja. Sebagai tujuan awal kami dibawa makan ke restoran yang menyajikan makanan khas Kamboja dan dilanjutkan ke beberapa toko tempat membeli kerajinan perak dan batu, dimana Kamboja memang terkenal murah. Mata uang yang berlaku di negara ini ada dua yaitu US Dollar pecahan kecil dan Cambodian Real (mata uangnya sendiri), namun masyarakat Kamboja sendiri lebih senang menerima USD ketimbang Real. Adapun $1 = 4.000 real, pada awalnya belanja di sini cukup membingungkan saat kita membayar dengan USD bisa saja kembalinya merupakan kombinasi dari kedua mata uang tersebut. Contoh belanja barang seharga $1.5 dan dibayar dengan $5, maka kembalinya adalah $3 dan 2.000 Real. Jadi butuh ketelitian lebih untuk bisa berbelanja di sini.

Sekilas tampilan luarnya mungkin biasa saja, tapi Raffles Grand Hotel D'Angkor  yang sudah berdiri sejak tahun 1932 ini
merupakan salah satu hotel bertarif termahal di Siem Reap.
Percaya atau tidak kuil kecil ini terletak salah satu hook jalan raya, konon banyak yang terkabul
permohonannya sehingga banyak penduduk lokal yang datang untuk memanjatkan doa di sini.

Angkor Night Market
Lagi-lagi kami dibawa ke tempat belanja, hanya yang satu ini berupa pasar sehingga barang yang dijual pun lebih beragam. Mulai dari emas, perak, bebatuan, pakaian, peralatan makan, pajangan, makanan, sampai ke bumbu masak semuanya ada di sini. Terbagi menjadi dua bagian old market dan new market yang dipisahkan oleh sungai. Semua barang di sini murah-murah, selama kita pintar menawar. Jangan sampai kita tertipu dengan harga yang dibuka, harga barang tersebut bisa ditawar hingga seperempatnya tergantung jumlah barang yang akan kita ambil. Buat yang suka jajan di bagian belakang old market ada tempat yang menjual beraneka makanan, termasuk makanan khas negeri ini, yang paling terkenal adalah amok dan loklak. Pulang dari sini kami langsung dibawa ke hotel untuk beristirahat demi perjalanan menjelajah Angkor besok.

Tuk-tuk yang menunggu penumpang dengan setia di sekitar pasar, jadi tidak perlu khawatir soal transportasi pulang.
Kali yang memisahkan antara old market dan new market

Suasana jalan menuju old market (foto diambil dari pinggir kali)
Sebagian karya seni yang diperdagangkan di dalam old market
Tampak luar new market di malam hari
Percayakah kalian kalau ini merupakan kali yang sama dengan foto sebelumnya,
jadi lebih cantik di malam hari dengan lentera yang menghiasi di atasnya.

Siem Reap, 19 Februari 2014
Angkor
Tiket Angkor only for me (sudah usaha maksimal supaya
bisa tampil cantik di foto ini, tapi tetap saja...)
Merupakan sebuah wilayah di Kamboja bekas Kerajaan Khmer, yang berawal pada masa Jayavarman II di tahun 802. Kata Angkor sendiri berasal dari bahasa Sansekerta "nagara" yang berarti kota. Jayavarman II setelah kemerdekaan Kamboja dari Jawa dan berhasil menyatukan beberapa wilayah di Asia Tenggara menyatakan dirinya sebagai Raja Dewa dari Kerajaan Universal. Selama berabad-berabad pembangunan di komplek Angkor terus bertambah sampai lebih dari seribu candi. Sampai dengan tahun 1431 Angkor akhirnya ditinggalkan oleh warganya setelah perang yang berkepanjangan dengan Kerajaan Ayutthaya. Kejatuhan Angkor ini mengakibatkan sebagian besar candi rusak karena tidak diurus, kecuali Angkor Wat yang saat itu tetap dipakai sebagai kuil Buddha. Sampai akhirnya tim ekspedisi dari Perancis memulai proses restorasi yang sangat panjang mulai dari 1907-1970, Angkor yang menyandang gelar salah satu keajaiban dunia hasil karya manusia ini pun dibuka untuk umum dengan jumlah pengunjung yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kini Angkor menjadi pemasukan utama negeri Kamboja dengan mematok harga tiket masuk "one day pass" sebesar $20 per orang, bayangkan saja berapa pemasukan yang didapat per harinya. Selain tiket satu hari, juga tersedia tiket dengan jangka waktu yang lebih lama buat yang ingin menjelajahi seluruh isi komplek Angkor. Untuk menghindari penyalahgunaan atas tiket yang sudah dibeli, di setiap tiket disertakan masa berlaku dan foto dari si pembeli tiket. Jadi buat yang mau simpan tiket Angkor sebagai kenang-kenangan jangan lupa merapikan diri untuk foto di depan loket tiket ya. Demikian sejarah singkat dari Angkor, kini saatnya mengunjungi tiga candi utama di komplek tersebut.


Angkor Thom
Candi yang menjadi tujuan pertama kami adalah Bayon, Angkor Thom,  yang didirikan oleh Raja Jayavarman VII di atas reruntuhan ibukota Khmer, Yasodharapura setelah berhasil merebutnya kembali dari tangan pasukan Cham (Vietnam Selatan). Angkor Thom merupakan kota dengan tembok batu mengelilingi sisi luarnya berikut candi Bayon sebagai pusatnya. Beliau merupakan Raja Angkor yang terhebat sepanjang sejarah Kerajaan Khmer, selain Bayon beliau juga mendirikan candi Ta Phrom dan Preah Khan sebagai dedikasi kepada orang tuanya. Di masa beliau juga Angkor mengalami masa transisi dari menganut agama Hindu menjadi Buddha Mahayana. Yang terkenal dari Angkor ini adalah bentuk wajah pada struktur Prasat Bayon maupun pada setiap menara di pintu masuknya. Masih banyak dugaan wajah tersebut dibuat atas referensi wajah dari Raja Jayavarman VII, Bodhisattva Avalokiteshvara (Dewi Kwan Im), para petinggi kerajaan, atau mungkin kombinasi dari semua itu. Seperti arti dari namanya yang berarti  "Great City", Angkor ini cukup luas untuk dijelajahi. Sehingga rombongan kami hanya mampir untuk melihat dan mengabadikan sisi luarnya saja.

Candi ini terkenal dengan ukiran wajah di setiap menara-nya, sayang kami tidak sempat masuk ke dalam
Dalam perjalanan menuju Wat Ta Prohm berpapasan dengan turis yang sedang asyik menikmati
keindahan Angkor dari atas seekor gajah (buat yang berminat ada penyewaannya).

Wat Ta Prohm
Ta Prohm yang sudah menyatu dengan
akar-akar pohon di sekitarnya
Berlokasi 1 km dari Angkor Thom, masih didirikan oleh Raja Jayavarman VII yang pada awalnya bernama Jayavihara sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga sang raja. Kuil utama mengambil wujud Prajnaparamita, personifikasi dari kebijaksanaan dengan ibunda raja sebagai modelnya. Kuil pendamping di sisi utara dan selatan masing-masing mewakili guru dan kakak tertuanya. Sedangkan untuk ayahanda dari raja dijadikan model dari Bodhisattva welas asih "Lokesvara" di kuil terpisah, Preah Khan yang memang didirikan sebagai pasangan dari Ta Prohm. Seperti kuil-kuil Angkor lainnya, Ta Prohm juga sempat terbengkalai sehingga banyak pepohonan menyembul dari sela-sela kuil ini. Hanya bedanya kondisi ini tetap dipertahankan dengan pertimbangan Ta Prohm merupakan kuil yang paling menyatu dengan lingkungan sekitarnya, dengan tetap memelihara konstruksinya demi keamanan pengunjung. Pepohonan yang dominan menyelubungi kuil ini adalah pohon kapas dan pohon ara dengan akar yang sangat besar seakan-akan sedang mencengkeram Ta Prohm. Tak heran film "Tomb Raider" yang dibintangi Angelina Jolie mengambil setting di sini. Dan sejak itu pula, Ta Prohm kian ramai dikunjungi turis. Kalau diperhatikan lebih dekat lagi di bangunan utamanya banyak terdapat lubang-lubang kecil, ada kabar kalau pada zaman dahulu batu-batu permata pernah mengisi lubang-lubang tersebut sampai dengan ekskavasi oleh bangsa Perancis. Beranjak dari sini kami mampir sejenak di salah satu restoran di sana untuk makan siang, baru kemudian lanjut ke Angkor Wat.

Salah satu kuil pendamping dari Wat Ta Prohm
Salah satu patung Buddha di dalam Wat Ta Prohm
Pohon-pohon yang menjulang tinggi di sekelilingnya seakan-akan hendak melindungi candi
Pose sebentar di salah satu pintu masuk ke selasar candi
Kalau jepretan yang satu ini diambilkan dengan sangat cantik oleh Pak Aziz (tour guide kami hari itu)
Aku berdiri di tengah-tengah akar pohon raksasa, yah kalau akarnya aja sebesar itu kebayang kan pohonnya seperti apa.
Salah satu relief di Wat Ta Prohm

Angkor Wat
Lima menara di tengah Angkor Wat
Nah, kalau candi yang satu ini pasti semuanya kenal. Salah satu dari kejaiban dunia yang menyandang predikat sebagai situs religius yang terbesar di dunia. Kalau dari ukuran bangunan sebetulnya Borobudur dari Indonesia tidak kalah besar, tapi Angkor Wat masih lebih unggul bila diukur secara keseluruhan komplek. Candi ini didirikan pada abad ke-12 oleh Raja Suryavarman II untuk memuja Dewa Wisnu dan berfungsi sebagai kuil kerajaan dan ibukota dari Kerajaan Khmer, oleh karena itu struktur bangunan utama Angkor Wat menyerupai bentuk Gunung Meru yang oleh agama Hindu dipercaya sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa. Begitu pula dengan lima menara utama berbentuk menyerupai kuncup-kuncup teratai di pusat bangunan yang tersusun dengan empat menara mengelilingi satu menara di pusatnya merupakan ciri utama dari candi Hindu. Sempat tidak selesai dan terbengkalai setelah wafatnya sang raja. Dan setelah serangan pasukan Cham, candi ini akhirnya direstorasi dan diteruskan pembangunannya oleh Raja Jayavarman II. Pada akhir abad ke-13 Angkor Wat berubah fungsi menjadi tempat pemujaan agama Budha Theravada yang terus berlanjut sampai sekarang. Bangunan utama Angkor Wat juga dijadikan sebagai lambang negara Kamboja yang bisa kita lihat pada bendera negaranya. 
Patung penjaga di depan jembatan
masuk pintu utama Angkor Wat
Demikian sejarah singkat tentang Angkor Wat, lanjut ke pengalaman pribadiku selama mengunjungi situs bersejarah tersebut. Kami memasuki Angkor Wat dari pintu masuk belakang, setelah melewati jalur komplek hutan akhirnya bangunan utama pun terlihat. Sedikit kontras dengan jalur masuk dari depan yang melalui jembatan panjang menyeberangi telaga air yang disambut dengan pelataran dan kolam kecil. Setelah melewati gerbang masuk belakang yang agak rusak, pintu masuk belakang hanya berupa pagar kayu yang langsung tembus ke dalam candi. Setelah memasuki galeri candi, untuk bisa naik ke menara utama di tengah candi tiket Angkor akan diperiksa kembali oleh petugas. Selain memeriksa kecocokan wajah pada tiket, kita juga diharuskan berpakaian sopan dan dilarang mengenakan topi selama mendaki naik ke atas (karena cari cepat aku langsung menitipkan topi ke tante yang saat itu tidak ikut naik). Sembari naik ke atas dengan sendirinya aku menyadari alasan kenapa ada larangan mengenakan topi, di sela-sela tangga kayu yang aku injak banyak terdapat botol air kosong dan topi yang terselip di sela-selanya. Mungkin karena terbawa angin, yang memang semakin kencang saat mendekati puncak tangga. Setelah sampai di puncak kita bisa mengelilingi lorong-lorong di mana di setiap sisi dalam terdapat altar pemujaan Budha. Sedangkan di sisi luar kita akan disuguhkan pemandangan komplek candi Angkor Wat.
Semua sudut Angkor Wat terlihat mirip
agak berbahaya buat yang buta arah
Setelah pas mengelilingi satu putaran aku pun segera turun, karena sudah terpisah dari rombongan alhasil sibuk cari jalan keluar sendiri di tengah komplek candi yang setiap sudutnya hampir mirip ini. Untung saja sempat berpapasan dengan tour guide dari kelompok lain dan ternyata jalan yang kuambil sudah benar (berpatokan pesan dari tour guide-ku, jangan ambil jalan yang sama dengan jalan masuk karena tempat berkumpul kami di pintu sebaliknya). Setelah berhasil keluar dari bangunan utama dari pintu masuk depan, aku segera menuju tempat berkumpul rombongan. Karena berputar-putar di dalam tanpa mengenakan topi, jadilah yang diserbu pertama kali adalah penjaja kelapa yang kebetulan memang banyak ditemui di situ. Cukup dengan $1 satu buah kelapa utuh bisa langsung dinikmati. Bila airnya sudah habis kita minum, kita bisa menyerahkan buah kelapa tersebut ke penjualnya untuk minta dibelah. Dari belahan kelapa tersebut ia akan membuatkan sendok dari batok kelapa yang bisa kita gunakan untuk mengeruk daging kelapa yang lembut tersebut. Setelah puas melepaskan dahaga, kami digiring menuju pintu masuk utama. Sambil sejenak mampir untuk berfoto di danau kecil di depan Angkor Wat. Dengan ini berakhir sudah perjalanan kami di komplek Angkor dan kota Siem Reap. Sekembalinya kami dari sini, kami langsung melanjutkan perjalanan ke kota Phnom Penh, ibukota dari Kamboja.
Buat yang ingin ke Angkor Wat, ada sedikit pesan dari tour guide kami kalau pemandangan di sini kala purnama katanya sangat spektakuler. Sehingga banyak turis manca negara yang khusus datang pada saat purnama dan bermalam di sini untuk sekedar menikmati pemandangan atau mengabadikannya lewat lensa kamera. Sedangkan saran pribadi saya adalah untuk bisa puas mengelilingi komplek Angkor minimal kita harus meluangkan waktu 1 hari penuh (itu pun masih jauh dari cukup, karena jumlah candi-candinya yang mencapai angka seribu lebih). Demikian liputan saya kali ini, sampai jumpa di liputan berikutnya ^.^

Gerbang masuk belakang Angkor Wat
Tampak belakang dari Angkor Wat (dari sinilah kami masuk hari itu)
Meniti tangga menuju ke puncak menara Angkor Wat
Pemandangan ke arah gerbang masuk depan dari atas menara Angkor Wat
Salah satu relief di Angkor Wat dengan kostum tarian Khmer yang terkenal "Apsara"
(sama dengan gambar magnet yang kubeli)
Jejeran patung Buddha di salah satu selasar Angkor Watt
Pemandangan andalan Angkor Wat, kolam cermin yang merupakan salah satu spot laris buat ajang narsis dan foto-foto
Inilah wujud gerbang masuk depan Angkor Wat (kami malah keluar dari sini, agak terbalik)
Jembatan panjang menuju ke gerbang masuk depan, dengan menyeberangi telaga buatan
Berfoto dengan tour guide kami hari itu, Pak Aziz yang sangat fasih berbicara dalam bahasa Indonesia
(benar-benar Indonesia, bukan logat Melayu)
Untuk yang berminat memakai jasanya boleh klik di sini 

Kamis, 27 Maret 2014

Cerita Kuliner Trip: Hidden Beauty at Roi Et, Thailand - nuraisya blog

Bangkok, 15 Februari 2014
Pada keesokan paginya, kami sudah harus segera bersiap lengkap dengan koper-koper untuk berangkat menuju kota berikutnya di bagian Timur Laut (Isan) Thailand, Buriram. Dikarenakan lalu lintas kota Bangkok yang cukup padat, menjelang siang kami baru mulai memasuki jalan tol dan mampir sejenak untuk makan siang di salah satu rest area. Yang tidak lain adalah McD, salah satu restoran cepat saji yang sering jadi penyelamatku di kala lapar di beberapa negara yang pernah kudatangi. Setelah McD, tempat-tempat berikut yang kami singgahi selama perjalanan hanyalah rest area demi rest area, selain jalan tol tentunya. Itupun demi memenuhi panggilan alam untuk buang air kecil, sambil sesekali belanja snack dan cemilan unik dari daerah-daerah tersebut.

Buriram, 15 Februari 2014
Kurang lebih 10 jam terhitung sudah sejak kami meninggalkan kota Bangkok, tidur-tidur ayam di dalam bis ternyata nyaris tidak membantu untuk mengisi energi tubuhku. Terbangun dengan tubuh pegal-pegal, melirik jendela sebentar sambil selentingan mendengar pengumuman kalau kami akhirnya memasuki Buriram. Tidak lama kemudian kami diturunkan di tempat belanja terlengkap dan terbesar di Buriram, semacam mal raksasa yang isinya beragam mulai dari supermarket, gerai pakaian, bank, kosmetik dan tempat makan. Sebagai catatan penduduk lokal di sini nyaris tidak bisa berbahasa Inggris, bahkan sampai ke pegawai bank-nya sekalipun. Bahasa tubuh menjadi bahasa andalan selama di sini. Sudah puas berbelanja di mal tersebut, kami pun melanjutkan perjalanan ke Thepnakorn Hotel untuk bermalam di Buriram.

Buriram, 16 Februari 2014
Bunga-bunga cantik
menyambut pagi di Buriram
Tidak terasa baru istirahat sebentar sudah pagi lagi, saatnya menikmati beraneka menu breakfast yang telah disediakan di hotel sebelum memulai kembali perjalanan. Lanjut menuju propinsi Roi Et, masih di Thailand. Di tengah perjalanan, seperti biasa kami mampir untuk makan siang di salah satu pondokan pinggir jalan. Di sana lagi-lagi nyicip es krim khas-nya Thailand hampir mirip dengan yang di depan Wat Pho, Bangkok. Es krim yang dipatok seharga THB 25 (sekitar Rp.10.000) ini diisi ke dalam batok kelapa muda yang masih lengkap dengan dagingnya dan rasanya uenaaaak banget. Oiya, sebelum lupa di Buriram ini terdapat satu stadium yang merupakan kandang Buriram United, klub sepak bola yang terkenal di Thailand. Menurut penjelasan tour guide kami, katanya banyak pemain-pemain sepak bola handal Thailand hasil jebolan dari Buriram United ini. Dan dalam salah satu perjalanan kami selama di Buriram kami sempat melewati stadium ini, hanya lupa hari ini atau keesokannya.

Es krim di batok kelapa yang wajib coba

Roi Et, 16 Februari 2014
Phra Maha Chedi Chai Mongkol
Tampak luar chedi
Destinasi kami berikutnya, sekitar 4 jam dari Buriram, Phra Maha Chedi Chai Mongkol yang berlokasi di distrik Nong Phok, propinsi Roi Et. Lama-lama sudah mulai terbiasa bangun tidur makan tidur lagi di dalam bis. Dengan muka sembab karena tidur yang serba tanggung, aku pun turun bersama rombongan di pelataran parkir komplek wisata ini. Sekilas mungkin mirip dengan tempat wisata di Indonesia, model-model Kawah Putih, Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat dimana tidak jauh dari pelataran parkir ada pasar yang dipenuhi oleh penduduk lokal yang menjajakan barang dagangannya. Mulai dari baju kaos, gantungan kunci, makanan, alat musik dan suvenir-suvenir lainnya khas Roi Et.

Untuk menuju ke kuilnya sendiri yang terletak di puncak bukit Namyoi masih butuh naik ke atas lagi, bisa dengan berjalan kaki melewati jalanan yang bentuknya menyerupai tembok cina atau dengan menggunakan jasa angkutan yang disediakan. Jaraknya sih tidak begitu jauh, untuk yang ingin menikmati pemandangan dan tidak terburu-buru mungkin lebih baik mencoba rute berjalan kaki. Setibanya di komplek kuil, kami langsung disambut dengan nuansa putih berbalut emas yang menghias mulai dari pagar luar, chedi (stupa) dan delapan stupa yang lebih kecil mengelilingi chedi. Chedi ini memiliki panjang, lebar, dan tinggi serba 101 meter dan berdiri di atas 101 rai (sekitar 16,16 hektar) yang diambil dari nama propinsi Roi Et yang memiliki arti 101 dalam bahasa Thai.

Pucuk chedi
Selain merupakan salah satu chedi terbesar di Thailand, di sini juga terdapat salah satu relik Buddha yang bisa kita temui di lantai paling atas chedi. Puas berfoto dan berdecak kagum melihat bagian eksterior, masuk ke dalam lebih terperangah lagi melihat bagian interiornya yang sangat detail. Tidak heran chedi ini sejak didirikan di tahun 1994 lalu sampai dengan kini masih belum rampung, karena di beberapa bagian masih ada rangka konstruksi dan bagian yang masih dalam tahap pengerjaan. Walau cuaca di luar terik, begitu masuk ke dalam chedi langsung terasa dingin meskipun non-ac.
Terdiri dari 6 lantai, di lantai pertama terdapat patung seorang Sangha. Kabarnya Phra Maha Chedi Chai Mongkol ini didedikasikan untuk Sangha tersebut. Lantai-lantai berikutnya hampir serupa dimana di tengahnya terdapat patung Sang Buddha dan beberapa Sangha. Lantai empat merupakan museum dan lantai lima berisi tangga melingkar yang menuju puncak stupa tempat relik Buddha bersemayam.

Patung naga berkepala lima yang mencuat dari dalam mulut naga
merupakan penjaga dari gerbang masuk komplek Phra Maha Chedi Chai Mongkol
Lihat deretan patung ini bikin spontan berdecak kagum, karya yang sangat membutuhkan ketelitian
Para umat sedang bersiap membaca Parita
Saat hendak pulang dari sini dekat pintu masuk terdapat dua buah gong besar, yang unik dari gong ini adalah cara membunyikannya tidak dengan dipukul. Aku menyaksikan dan mendengarkan sendiri saat seorang Sangha di rombongan kami membunyikannya hanya dengan mengusap-usap seperti di gambar yang berhasil tertangkap kameraku. Tapi suara yang dihasilkan sangat mencengangkan, sampai menggema ke penjuru pelataran chedi. Spontan aku mengangkat kedua tanganku untuk menutup kuping saat suara sudah semakin membahana merasuk ke sekujur tubuh. Ada beberapa peserta tour yang mencoba membunyikan dengan cara yang serupa tapi kebanyakan tidak berhasil, termasuk aku yang hanya mengeluarkan suara pelan saja (yang penting nyoba, daripada penasaran kan). Dengan ini berakhir sudah perjalananku di chedi yang megah ini. Semoga masih ada jodoh untuk bisa ke sini lagi kala sudah benar-benar rampung.


Wat Buraphaphiram
Masih di propinsi Roi Et, kali ini di kota Roi Et-nya kami mengunjungi tempat berikut yaitu Wat Buraphaphiram. Tidak terasa saat kami tiba hari sudah mulai gelap, saat mendekati tujuan sudah langsung bisa terlihat apa yang membuat tempat ini spesial. Wat Buraphaphiram terkenal dengan patung Buddha berdiri tertinggi di Thailand dengan ketinggian 67,85 meter. Di sekelilingnya terdapat taman yang berisi patung-patung yang menggambarkan kisah Sang Buddha dan goa kecil yang berisi patung Buddha. Sedangkan di dasarnya terdapat tempat sembahyang (bagi yang ingin sembahyang bisa membeli paket, dupa, dan lilin dengan biaya sukarela dari penjual sekitar) dan museum. Kami tidak lama di sini karena sudah saatnya mencari tempat untuk makan malam yang dilanjutkan dengan perjalanan kembali ke Buriram untuk beristirahat.

Bandingkan ukuran patung dengan bis tingkat tersebut, kebayang kan tingginya
Sisi luar gua dihiasi dengan patung-patung Sang Buddha

Buriram, 17 Februari 2014
Prasat Muang Tam
Di hari terakhir kami di Buriram, setelah check out dari Thepnakorn Hotel kami segera menuju ke Prasat Muang Tam dengan tiket masuk seharga THB 30. Setelah puas mengunjungi kuil-kuil Buddha kali ini giliran mengunjungi candi peninggalan agama Hindhu yang berlokasi di distrik Prakhon Chai, propinsi Buriram. Candi Khmer yang sudah berdiri sejak awal abad ke-11 ini didirikan untuk memuja Dewa Shiva. Dengan bagian luar dibentengi tembok batu, di pelataran dalam terdapat empat kolam yang cantik di tengah guguran bunga bernuansa oranye, dan lima menara batu di tengah pelataran tersebut. Menara-menara batu tersebut menggambarkan pusat dari alam semesta dan berfungsi sebagai tempat pemujaan.

Perpaduan warna jingga dari bunga bermekaran di pinggir kolam cantik buat difoto
Bagian tengah Prasat Muang Tam, melambangkan pusat kosmos

Nakhon Ratchasima, 17 Februari 2014
Wat Luang Phor Toh (Thai Movie Star Temple)
Narsis time
Terletak di Sikhiu, Nakhon Ratchasima (Korat) masih di bagian Timur Laut Thailand. Propinsi Nakhon Ratchasima merupakan bagian paling Selatan-nya Isan yang berbatasan dengan bagian sentral / pusat Thailand. Kuil yang didedikasikan untuk Sangha Luang Phor Toh ini masih tergolong baru dan juga masih dalam tahap pengerjaan. Di tanah ini semula hanya berdiri patung berwarna emas Luang Phor Toh sampai dengan seorang bintang film Thailand terkenal bernama Khun Sorapong Chatri membeli tanah di sekitarnya dan mendanai pembangunan konstruksi awal dari kuil ini, dari sinilah istilah "The Movie Star Temple" diperoleh. Buat yang mau bertemu langsung dengan artisnya si katanya bisa datang ke sini setiap akhir pekan, beliau suka melakukan penggalangan dana di sini demi kelancaran pembangunan kuil. Sayangnya kami berkunjung pada hari Senin, tapi walau tidak bertemu langsung dengan artisnya kita tetap bisa menyumbang dana untuk pembangunan kuil kok.
Gedung lain di komplek yang sama
Hampir di setiap penjuru kuil tersebar kotak-kotak amal, di pusat informasi kita bisa berdana dan menuliskan data diri kita di balik genteng yang kelak akan digunakan, di gedung utama tempat patung Luang Phor Toh kita juga bisa berdana, memanjatkan doa dan menempelkan kertas emas di patung Luang Por Thoh yang lebih kecil. Buat yang mau beli cindera mata juga tersedia di pusat informasi dekat pintu masuk. Selepas dari sini kami hanya mampir di rest area yang cukup besar untuk makan, beristirahat, dan beli cemilan yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan kembali menuju Bangkok.

Pemandangan para umat yang menempelkan kertas emas ke patung Luang Phor Toh
Sosok luar Wat Luang Phor Toh yang cantik

Bangkok, 17 Februari 2014
Untuk kedua kalinya kami tiba di Bangkok menjelang tengah malam, hanya saja kali ini sekedar numpang tidur dan meluruskan badan saja. Karena agenda berikutnya adalah Airport Don Mueang untuk bertolak dari Bangkok, Thailand menuju Siem Reap, Kamboja. Sampai ketemu di Angkor Watt di post berikutnya byee ^_^

Mejeng sebentar di Airpot Don Mueang