Kamis, 04 September 2014

Cerita Kuliner Holycow! Steakhouse by Chef Afit - nuraisya blog

Last Saturday my dear friend Tika invite a couple of friends including me to share the joy and happiness of her success. The place she chose for the big day is the trending steakhouse Holycow! that located at Jl. Panjang, Kebon Jeruk, West Jakarta. Actually the appointment time is around lunch time, but because of the unpredicted traffic my friend and I both late. Lucky, Tika still waiting there patiently with her usual smile and offering us to order the meal.

A little about Holycow! Steakhouse and the person behind it, Chef Afit Dwi Purwanto who previously worked for a well-known TV station. The idea itself pop to his mind after enjoying a plate of juicy wagyu steak at a very fancy restaurant. Just like his motto "wagyu is for everyone", now we can enjoy fancy steak with affordable price. And with a good marketing strategy using the social media, Holycow! soon become famous and adding more branches.

A glimpse of Holycow! Kebon Jeruk
A unique door knob, can't help myself not to knock it
Holycow! there's me again in reflection mode. The building surrounded by glasses that give enough light during the day.
The place itself cozy with modern minimalist concept and the color of red and white dominating the whole restaurant. Started with the big red wooden door with the bull's head handle that easily capture my attention while entering, the chairs, the solid walls, curtains, and the waitresses also dressed in red. I don't know it's coincidence or not but red in Chinese representing fire, and fire element is good in running restaurant business. Despite of that belief, Holycow! now a success, considering the crowded people waiting in line to eat here and it's a rare view to see empty seats. So, if you want to eat while having a long and serious talk, this is not the perfect place. Remember we're here to enjoy tasty and fancy steak and do come early if you are too hungry to wait in queue.

Cow meat diagram near the counter, which part do you like most?
Red, red and more red...
Okay, time to eat and enjoy our meal, started with sipping my Mango Peach, onto the main course which of course Wagyu Steak and tasting the tasty dessert Tiramisu in a cup by weMISU.
"Wagyu refers to several breeds of cattle, the most desired of which is genetically predisposed to intense marbling and to producing a high percentage of oleaginous unsaturated fat" - Wikipedia
Mango Peach
IDR 17.000 (before tax)
I order this refreshing Mango Peach Syrup with less ice, the portion quite big. So you don't have to worry run out of it while waiting the steak to arrive.


Wagyu Tenderloin, served with mashed potatoes, BBQ sauce and beans
IDR 175.000 (before tax)
The meal I order, why I choose tenderloin? Of course to avoid fat. I also choose it cooked well done, since I'm not a fan of raw meat. So this is not a favorite option for you who seek for a perfect steak experience. You can choose your sidedish and sauce too, between beans or spinach, potato fries or mashed potatoes and between barbeque, buddy's special (basil), mushroom, white sauce (herbs) or blackpepper sauce. One more thing, I love how they cook the beans with garlic. It simply make them more delicious and adding the flavor to the whole dish.

Wagyu Sirloin, served with mashed potatoes, mushroom sauce and beans
IDR 125.000 (before tax)
Now we're talking, this is the favorite part of cow that almost everybody loves, sirloin. The fat make it more juicy, especially when it cooked medium rare. Hmmm....! Just imagining it makes me want to forget my diet. If you notice the background of the photo, yup, that's right there's a free steak for the birthday boy / girl whose willingly to wear Holycow! crown while eating. So, anyone care to try the majestic crown?

Wagyu Sirloin, served with potato fries, BBQ sauce and spinach
IDR 125.000 (before tax)

Tiramisu from weMISU (green tea, coffee, original)
IDR 15.000 / cup (before tax)
They maybe small, but they tasted big. Available in various flavor, such as green tea, coffe, original, durian, and strawberry. It soft and creamy on top just like ice cream with thin layer of cake at the bottom, the sweetness also just right not to sweet. I like coffee and durian the most, but then again I'm only suggesting durian if you're a durian's fan. 

A little treat for my family (misu durian and strawberry)
Many thanks to Tika for sharing the joy and tastiness!
Holycow! Steakhouse
Jl. Arteri Kelapa Dua No.18 (Jl. Panjang)
Kebon Jeruk
Jakarta Barat

Minggu, 31 Agustus 2014

Cerita Kuliner Trip: A Glance of Ho Chi Minh, Vietnam - nuraisya blog

Moc Bai, 21 Februari 2014
Sepeda motor banyak
ditemui di sini
Bertolak dari Phnom Penh ke perbatasan Kamboja-Vietnam di Bavet, untuk yang tidak mau repot antri dan ingin cepat disarankan untuk menyiapkan uang sampai dengan $5 (tergantung kebutuhan) untuk diselipkan di dalam paspor. Karena kami menggunakan bis supaya tidak perlu menurunkan dan periksa semua barang bawaan setiap melewati satu pos penjagaan harus merogoh $1, pos berikutnya tambah lagi, sampai akhirnya setelah kami turun untuk cap imigrasi menyeberang ke Moc Bai, Vietnam masih ada saja calo yang menawarkan untuk bisa langsung ke loket baru asalkan bayar lagi. Waktu itu kami memilih antri saja di imigrasi, toh yang antri juga grup kami semua. Selepas dari imigrasi dan menginjakkan kaki pertama kali di Vietnam kami sudah disambut dengan para wanita yang menjajakan jagung ketan rebus dan es tebu. Jadilah kami menyerbu para wanita yang menjajakan dagangannya dengan bersepeda motor ini sembari menunggu bis berangkat. Sekedar saran kalau lewat perbatasan darat wajib hukumnya untuk sediakan uang kecil untuk negara tujuan selanjutnya, biar bisa jajan kalau lapar. Mata uang Vietnam adalah Vietnamese Dong (VND) yang bernilai sekitar 0,57 IDR saat aku ke sana, yup mata uang Indonesia lebih besar. Hal ini baru saja kualami selama bepergian ke negeri orang. Walau secara teknis nilai Rupiah kita lebih besar, saat dibawa ke money changer nilainya akan jatuh karena mereka lebih menghargai USD ketimbang IDR. Jadi buat yang suka belanja bawa stok USD yang banyak ya.... Selanjutnya kami segera menuju Ho Chi Minh untuk check in di hotel Hoang Hai Long di dekat pasar Ben Thanh.

Sekelumit pemandangan kota Ho Chi Minh, Vietnam

Ho Chi Minh, 22 Februari 2014
Reunification / Independence Palace
Tampak luar Istana Kemerdekaan
Gedung yang megah di zamannya ini sebetulnya masih tergolong baru, resmi berdiri pada tahun 1966 dan berfungsi sebagai tempat kediaman dan dinas presiden. Di masa kepemimpinan Duon Van Minh, terjadi revolusi yang menuntut sang presiden untuk menyerah tanpa syarat setelah pasukan pembebas berhasil merangsek masuk melalui gerbang utama istana. Yang berlanjut dengan diadakannya Political Consultative Conference untuk penyatuan nasional kembali di istana yang sama. Dari sinilah istilah Reunification (penyatuan kembali) dan Independence (kemerdekaan) Palace diperoleh. Pada tahun 2009 istana ini diresmikan sebagai salah satu peninggalan sejarah nasional oleh Perdana Menteri Republik Sosialis Vietnam. Dan sampai kini merupakan salah satu tujuan wisata yang terkenal di kota Ho Chi Minh, dan masih sering digunakan sebagai tempat perjamuan kenegaraan, rapat kepemerintahan dan acara-acara penting lainnya.

Untuk struktur bangunannya terdiri dari 4 lantai utama, 2 lantai mezanin, lantai dasar dan lantai bawah tanah. Di bawah rancangan Ngô Viết Thụ yang sangat terpengaruh dengan filosofi Timur struktur keseluruhan peta bangunan istana pun memiliki kesamaan bentuk dengan huruf kanji yang berarti keberuntungan atau hoki. Sedangkan tampak depan istana juga memiliki makna tersendiri yang masih terkait dengan bentuk huruf kanji yang berarti kejujuran, kesetiaan, kemanusiaan, kebijaksanaan, tujuan yang jelas, kepemimpinan, dan kemakmuran. Untuk bagian interior istana bisa dikatakan cukup mewah dan unik dari lokasi tangga-tangganya yang agak di luar pakem. Kecuali di lantai bawah tanah yang sempat bikin ragu untuk melangkah ke sana, karena terdapat lorong kecil panjang yang tidak terlihat ujungnya kemana ditambah lagi sedang sendirian karena terpisah rombongan sewaktu turun selepas melihat landasan helikopter. Untung saat mau berbalik akhirnya bertemu dengan beberapa anggota rombongan yang bersedia menemani menilik apa yang ada di balik lorong panjang tadi. Misi mengelilingi istana sudah selesai saatnya lanjut ke tujuan berikut...

Ruangan mewah khusus menyambut tamu-tamu kenegaraan
Arsitektur bangunan favoritku, sangat ramah lingkungan. Ventilasi ini dibuat sedemikian rupa sehingga sepanjang lorong bisa tetap terang di siang hari namun masih memiliki nilai estetika yang tinggi. 
Ruangan untuk para tamu yang elegan
Berpapasan dengan salah satu tour guide lokal yang manis sekali dengan pakaian khas Vietnam, yang dengan ramahnya mengizinkanku untuk mengabadikan dirinya dengan kamera
Ada bioskop pribadinya juga loh
Landasan helikopter di atas gedung lengkap dengan helikopter lorengnya
Salah satu mobil yang pernah dipakai oleh salah satu presiden Vietnam

Saigon Notre-Dame Basilica
Sebuah gereja besar yang berdiri kokoh dekat kantor pos, didirikan pada masa kolonial Perancis dengan menggunakan material yang khusus diimpor langsung dari negara Perancis. Tak heran gereja yang memiliki dua menara bel di kedua sisi depannya ini memiliki konstruksi yang tidak kalah megahnya dengan gereja-gereja di Eropa. Sayang kami hanya mampir untuk berfoto di depannya saja hari itu untuk mengejar perjalanan ke Cu Chi Tunnels yang terletak agak di pinggir kota. Bukan hanya turis saja loh yang suka berfoto di sini, sepertinya tempat ini juga merupakan tempat favorit untuk pre wedding calon pasangan pengantin. Selain gereja, atraksi turis lainnya adalah Patung Bunda Maria yang berada tepat di depannya. Yang sempat membuat geger pada tahun 2005 ketika beredar kabar, Patung Bunda Maria tersebut meneteskan air mata pada pipi sebelah kanannya. Walaupun berita tersebut sempat dibantah oleh pihak gereja. Berlanjut dari sini kami segera berangkat menuju Cu Chi Tunnels sambil makan siang di tengah perjalanan ke sana.
Mejeng di kaki Bunda Maria yang bersejarah itu, dengan Saigon Notre-Dame Basilica sebagai latarnya

Saigon Central Post Office, yang agak bikin kaget ternyata bangunan ini merupakan salah satu karya dari Gustave Eiffel si perancang Menara Eiffel

Cu Chi Tunnels
Sedikit menuju ke pinggiran kota, tujuan berikutnya adalah sebuah restoran yang bernama "Cumi" lucu ya namanya. Di sini kami mampir sejenak untuk mengisi perut sebelum menjelajahi Cu Chi Tunnels tidak jauh dari situ. Waktu itu meja kami memesan semacam hot pot tom yam dengan harga yang tergolong ekonomis. Yang uniknya untuk udang, salah satu bahan celupan tom yam tersebut masih hidup saat disajikan. Jadilah pada lempar-lemparan siapa yang akan mengeksekusi para udang tersebut ke dalam panci panas, yang berakhir ke tangan si pelayan muda yang lugu dan full bahasa isyarat karena tidak mengerti bahasa Inggris. Lanjut ke Cu Chi Tunnels dengan tiket masuk ke komplek seharga VND 20.000 dan tiket masuk plus tur ke kawasan terowongan seharga VND 70.000 per orang, total sekitar 51.300 Rupiah. Seperti namanya, terowongan Cu Chi merupakan gua-gua bawah tanah peninggalan tentara Vietkong saat perang Vietnam dulu. Tidak tanggung-tanggung terowongan tersebut sampai bertingkat ke bawah tanah persis seperti sarang semut. Dengan fungsi yang berbeda untuk tiap tingkatnya mulai dari rute gerilya, gudang senjata dan makanan, markas, tempat tinggal, dan pastinya tempat bersembunyi. Yang lebih hebatnya lagi tentara Vietkong sudah terbiasa tinggal di bawah tanah sampai berminggu-minggu dengan stok udara, air dan makanan yang sangat minim. Jadi tidak heran dengan kegigihan mereka yang luar biasa tersebut tentara Amerika yang bersenjata lengkap pun bisa terpukul mundur. Selain gigih Vietkong yang menganut paham komunis juga pakarnya daur ulang, mulai dari ban bekas yang dibuat menjadi sandal sampai ke bekas rudal musuh yang diolah kembali menjadi senjata ledak lainnya. Untuk yang penasaran bagaimana rasanya merayap di dalam terowongan Cu Chi bisa mencoba langsung di rute yang sudah diperbesar khusus untuk turis dengan kepanjangan rute yang bervariasi. Patut diketahui pada saat terowongan dibuat hanya pas-pasan seukuran tubuh Vietkong, seperti ukuran ras Asia umumnya, sehingga menyulitkan musuh yang kebanyakan tentara Amerika untuk mengejar mereka sampai ke dalam terowongan. Di pertengahan tur bagi yang ingin mencoba sensasi menembak dengan senjata sungguhan macam AK-47 atau M16, silakan merogoh kocek untuk membeli peluru di galeri tembak di komplek yang sama. Di akhir perjalanan, kami digiring untuk menikmati sajian singkong rebus dan teh hangat yang katanya merupakan makanan pokok mereka selama perang berlangsung.

Inilah dia hot pot tom yam ala "Cumi"
Anggota tur kami sedang berpose di depan peta komplek Cu Chi
Memasuki kawasan hutan tempat Vietkong dulu berjuang untuk kemerdekaan mereka
Searah jarum jam dari kiri atas: jebakan duri ayun; lubang jebakan saat tertutup; lubang jebakan bila tutupnya terinjak; tour guide kami siang itu sedang menjelaskan cara kerja berbagai jebakan lainnya
Dari kiri ke kanan: proses penggalian terowongan, di bawah bagian yang mengeruk tanah dan tanah yang sudah digali diangkat ke permukaan dengan keranjang bergalah; contoh jalan masuk rute terowongan penghubung dan jalan keluarnya; lubang bersembunyi plus model salah satu teman kami, kalau ditutup seperti rerumputan biasa (atas) dan lubang tempat penembak bersembunyi, yang kalau dikejar musuh ada rute khusus bersembunyi dan jebakan (bawah)
Berpose di depan tank tentara Amerika yang berhasil dikalahkan oleh sepasukan Vietkong dengan senjata ala kadarnya
Peninggalan rudal-rudal musuh, tinggal kerangkanya saja karena isinya sudah didaur ulang
Contoh seragam Vietkong, seperti seragam komunis Pol Pot di Kamboja atasan dan bawahan hitam dengan scarf kotak-kotak di leher. Hanya sedikit berbeda di warna scarf-nya, di sini kombinasi hitam putih bukannya merah putih. Namun perbedaan yang cukup besar bisa terlihat kalau Vietkong yang sama-sama penganut komunis di Vietnam dianggap sebagai pahlawan, kebalikan dengan rezim Pol Pot yang menjadi sejarah kelam di Kamboja.
Mejeng sebentar bersama Mr. Ho Chi Minh, si pemimpin revolusi sebelum pulang 

Ben Thanh Night Market

Salah satu kios baju kaos di pasar malam
Pasar yang di siang hari menjual segala jenis barang. Mulai dari pakaian, tas, koper, kopi, makanan, money changer, kerajinan tangan dan suvenir lainnya. Ketika di malam hari berubah wujud menjadi pasar malam yang para penjualnya menjajakan dagangan mereka di pinggir jalan raya karena gedung pasar hanya buka sampai dengan jam 5 sore. Hanya yang perlu diwaspadai di sini adalah harga yang dibuka oleh para pedagang di sini sangatlah gila-gilaan. Bisa sampai dengan 5x lipat bahkan lebih, kalau tidak bisa menilai kualitas barang bisa-bisa tertipu padahal sudah mengira untung karena berhasil menawar sampai sepertiganya tapi ternyata harga aslinya masih jauh di bawah itu. Jadi untuk belanja di sini harus tega dan tahan dimaki-maki oleh penjualnya. Karena terkadang walau kita dimaki karena menawar terlalu rendah toh kalau memang masih untung ia akan memanggil kita lagi (seperti pengalamanku). Di sini juga ada tempat jajan pinggir jalan yang cukup ramai, jadi walaupun harus duduk di dingklik-dingklik yang tersedia jadilah kami memesan makan di sana karena penasaran. Dan ternyata makanan-nya sangat memuaskan (catatan: non halal) terlebih lagi engko yang jualan dengan baik menjelaskan apa saja yang ia jual dengan sabar (maklum pada maksa cas cis cus pakai bahasa campur aduk sambil tunjuk ini itu demi perut). Jadi pantaslah untuk masuk daftar rekomendasi buat yang berkunjung ke Ben Thanh di malam hari.

Di malam hari gedung pasar hanya menjadi latar saja, saatnya pasar jalanan beraksi
Inilah penampakan si engko kelimis yang dengan sigapnya menyiapkan pesanan kami
(saking cepatnya sampe blur, kayak kungfu aja hahaha)
Nasi Babi Panggang (non halal)

Ho Chi Minh, 23 Februari 2014
Saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Vietnam, memang masih banyak tempat indah dan menarik yang bisa dikunjungi di sini (salah satunya Ha Long Bay). Mungkin suatu hari nanti aku akan kembali menginjakkan kaki di Vietnam, dengan kisah baru tentunya. Tapi paket wisata yang sudah kami jalani selama 10 hari ini berakhir sampai di sini, saatnya kembali ke Jakarta untuk kembali ke rutinitas sehari-hari. Sampai jumpa Vietnam, semoga lain waktu kita kembali bersua ^-^
Bakalan kangen sama menu sarapan lengkap yang disediakan Huang Hai Long Hotel
Haloooo, sebentar lagi aku pulang lohh.... buat yang sudah kangen ^.^
(mejeng di lobby Huang Hai Long)

Minggu, 24 Agustus 2014

Cerita Kuliner Trip: Pengalamanku Terbang Bersama AirAsia - nuraisya blog

"Kaaa... lu nulis blog donk..." kurang lebih begitu kalimat pembuka dari percakapan di grup travel kecil kami sore itu. Sambil mencermati iklan Kompetisi Blog 10 Tahun AirAsia Indonesia yang ia kirim dan mendengarkan celotehan antusiasnya yang menyuruhku untuk ikutan (secara dalam grup ini cuma aku yang ketahuan punya blog). Tidak tanggung-tanggung ia siap membeli salah satu hadiah tiket ke Nepal kalau aku menang nanti, uang sakunya boleh buatku semua katanya. So sweet kan? Sambil mikir memangnya sudah pasti menang ya, terus kalau memang menang brarti harus pergi bareng si anak tukang ngilang yang satu itu? Bisa-bisa ada edisi "Lost in Nepal" nih. Oke, stop dulu menghayalnya karena bakalan susah buat menangin lomba ini. Mau tau kenapa? Pertama ini AirAsia gitu loh, begitu iklan lomba ini beredar sudah pasti banyak yang berminat apalagi setelah baca hadiahnya. Siapa sih yang tidak mau jalan-jalan gratis ke Nepal dapat uang saku sepuluh juta rupiah pula. Kedua, mengingat jurinya adalah ratu blogger travel kondang Trinity, yang terkenal dengan cara penulisannya yang asal jeplak dan selalu bikin pembacanya ngakak itu. Konon penulis akan lebih menyukai gaya tulisan yang mirip dengan gayanya sendiri, gaya tulisanku kan beda banget... Yah terlepas dari itu semua, tidak ada salahnya untuk tetap ikut dan berharap untuk menang. Seperti kata orang dulu raihlah cita-cita setinggi langit... hufff (tarik napas)... SEMANGAAATT.....!!

Nah, sekarang giliran cerita yang sesuai tema nih. Kalau diingat-ingat pengalamanku dengan AirAsia sendiri masih tergolong sedikit, tapi di antaranya ada beberapa yang cukup berkesan (kalau masih teringat berarti cukup okelah, secara aku ini pelupa berat). Persis orang jatuh cinta yang namanya cinta pertama itu pasti tidak akan terlupa, aku pertama kali naik AirAsia tahun 2006 dengan tujuan ke negara asalnya yaitu Kuala Lumpur, Malaysia. Dimana pada zaman itu bisa menginjakkan kaki di luar negeri saja bangganya setengah mati, ditambah lagi ini adalah perjalanan pertama dengan hasil jerih payah sendiri. Jadi AirAsia yang saat itu menawarkan harga tiket yang terbilang nyaman di kantong, bisa dibilang merupakan titik awal dari prestasi-ku bisa ke luar negeri dengan mandiri tanpa subsidi dari orang tua sama sekali.

Setelah itu sudah tidak terhitung lagi pengalamanku terbang bersama AirAsia. Pengalaman lainnya dengan AirAsia yang masih gres di benakku adalah penerbanganku dari Surabaya ke Bangkok di awal tahun 2014 ini. Yang unik dari penerbangan kali ini bukan karena aku yang notabene berdomisili di Jakarta malah nyasar berangkat ikut rombongan Surabaya buat jalan-jalan ke Thailand, Kamboja dan Vietnam. Tapi hari keberangkatannya yang cukup bersejarah, penerbangan kami di sore itu adalah penerbangan terakhir di Bandara Juanda sebelum akhirnya bandara tersebut ditutup beberapa hari ke depan dikarenakan Gunung Kelud meletus. Kami juga baru tahu perihal tragedi tersebut setelah mendarat di Bangkok. Sedikit saja keterlambatan berakibat batalnya seluruh rencana liburanku yang sudah direncanakan dari satu tahun sebelumnya. Untungnya selama naik AirAsia belum pernah aku mengalami yang namanya delay karena hal apapun.

Sedikit kenangan dari perjalananku tersebut, searah jarum jam dari atas kiri: Nasi Lemak Pak Nasser yang lezat; pemandangan dari dalam pesawat AirAsia di sore yang bersejarah (anehnya sisi jendelaku masih terang padahal di jendela seberang sudah jingga); saat mejeng di Bandara Don Mueang beberapa hari kemudian; tiket AirAsia Surabaya-Bangkok
Murah meriah sudah, on time juga sudah, sekarang servisnya. Seperti di beberapa penerbangan lainnya yang sudah menerapkan check in sendiri, selain online di AirAsia bisa juga lewat mesin-mesin yang tersedia di bandara. Walaupun judulnya sendiri tenang aja tetap ada petugas AirAsia yang berjaga di dekat mesin tersebut untuk membantu calon penumpang yang kebingungan dengan sistem ini (sudah dibuktikan sendiri olehku yang agak katrok waktu pertama kali coba). Jadi antrian check in ke counter cuma buat bagasi dan verifikasi saja, servis pun terasa lebih cepat. Way to go AirAsia! Sedikit tambahan makanannya AirAsia juga oke, jadi kangen nasi lemaknya slurppp.... Pendek kata terima kasih AirAsia karena telah hadir hampir di setiap perjalananku dan menambah warna dalam hidupku, semoga AirAsia tetap jaya dan semakin berkembang baik dari mutu maupun destinasi! Cheers ^.^

Tulisan ini diikut sertakan dalam kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia

Minggu, 29 Juni 2014

Cerita Kuliner Popolamama: The First Fresh Pasta Chain in Indonesia - nuraisya blog

Last week my friend offer an invitation from Popolamama, an Italian restaurant chain that famous in Japan. Since Italian food is one of my favorites, so I accept the invitation immediately. Popolamama came from two Italian words popolare (popular) and mama, which means in Italy the most delicious dish always come form mom's cooking. Of course mom's cooking always the best in any part of the world.

Popolamama's logo, a little different with the one in Japan
Popolamama start it's journey in Japan from 1995 up 'till now it already has 170 chains. And thanks to JC Comsa the license holder for Popolamama chains outside of Japan, Popolamama is available in Indonesia now. Not only that it also became the first restaurant that served fresh pasta and homemade pizza in Indonesia. You can find Popolamama at Sudirman Plaza and Mal Taman Anggrek, soon in Grand Indonesia. Another fun fact that all of you and your friends can enjoy these Italian dishes since it holds the 100% halal certificate.

Easy to spot location, Sudirman Plaza's branch
Fresh pasta not like other restaurant that uses dry/packaged pasta, Popolamama uses fresh pasta made from 100% Durum Wheat (the king of grain) ground into Semolina Flour that only need heating once to prevent the nutrition loss. Has great texture and chewy pasta.

Modern minimalist concept with 75 seat capacities
Homemade Pizza adopting Napoli style with much more simple topping. Thin but chewy dough. Baked using special technique and oven at a very high temperature to fit the Napoli pizza standard. Oven kicked rim and nicely burn crust is one of the Napoli authenticity you can enjoy at Popolamama.

The making of handcrafted Napoli style pizza
Caffe Carraro Italian coffee that established since 1927 with composition 90% arabica and 10% robusta, with compact and persistent creaminess, fragrant and fruity aroma, rich and velvety flavor that can compete with other famous coffee brands in Jakarta.

Carraro coffee creations in the making
Popolamama dishes consist of 90% Italian menu with 10% Japanese taste. Beside the pasta and pizza, there are also appetizers, side dishes, fresh juices, mocktails, ice cream, tea and coffee.

Let's scroll and roll the menus then...

Share the food and happiness with your loved ones
Appetizers (clockwise): Spicy Beef Krakauer, Japanese Mushroom Salad, Popolamama Salad
Spicy Beef Krakauer IDR 45.000
Spicy Sausage, served with broccoli, potatoes and Neapolitan sauce
Japanese Mushroom Salada IDR 30.000
Mixed Green, cherry tomatoes, Bunashimeji and Eringi mushrooms served with Japanese Dressing & Kizami Nori
Popolamama Salad IDR 26.000
Mixed Green, grana padano, cherry tomatoes, onion, sweet corn served with Thousand Island Dressing

Hot & cold: Hot Ocha IDR 10.000
Iced Pink Grapefruit Lychee Tea IDR 28.000
Bolognese Potato Gratin IDR 30.000
Potatoes, bolognese sauce baked with cheddar cheese and mozzarella
Classic Bolognese IDR 48.000
Wafu Soy Sauce Based Pasta with smoked beef, spinach & rucola IDR 50.000
Aglio Olio with Tuna IDR 48.000
Cream Sauce Style with smoked beef, spinach & rucola IDR 50.000
Pepperoncino Basil with potato and chicken sausage IDR 55.000
Neapolitan with chicken sausage IDR 52.000
Beef Pepperoni IDR 60.000 / pan
Classic Pizza Margherita IDR 50.000 / pan
Banana Caramel Pizza IDR 55.000 / pan
Three Japanese Mushroom IDR 65.000 / pan
My favorite combo: Cappuccino and
Apple Cinnamon Pizza IDR 55.000 / pan
Carraro collection (clockwise): Cappuccino IDR 25.000
Black Coffee IDR 17.000
Caramel Latte IDR 32.000
Desserts: Hazelnut Dark Chocolate IDR 42.000
Apple Pie IDR 38.000
Amongst the menus above although they all proven tasty of course I have my own favorites and they are Japanese Mushroom Salad for appetizer, Pepperoncino Basil for pasta, and Beef Pepperoni for pizza. For dessert I prefer Apple Cinnamon Pizza and Hazelnut Dark Chocolate (a must for dark chocolate fans). Cappucino and Caramel Latte (I love the mild sweetness from this drink) also nice choices for hot drinks, especially for those who adore coffee. Overall Popolamama is a great place to hangout with your family, colleagues or friends, with wi-fi support, nice enviroment and of course a lot of tasty dishes to pick on the menu. Where else you can enjoy Italian food as tasty and as fresh as your mom's cooking?

Plaza Indofood Tower GF
Jl. Jend. Sudirman, Kav 75-78
Jakarta
Twitter: @popolamama_id